Melihat ke Dalam

Bacaan: Mat 7:1-5

Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu — Mat 7:3-4

Ada sepasang suami istri yang berencana untuk membeli rumah. Suatu hari, setelah membaca iklan di Koran, mereka tertarik untuk melihat langsung salah satu rumah yang akan dijual. tetapi karena sang istri sedang hamil tua dan harus tinggal di rumah, maka terpaksa sang suami berangkat sendiri. sang suami berjanji akan memotret rumah itu sedetil-detilnya. ketika pulang, suami tsb memberikan oleh-oleh berupa 2 roll film rumah idaman mereka untuk istrinya. Setelah selesai film tsb dicetak, terjadilah dialog antara suami istri ini. “Ini apa?” Tanya sang istri ketika melihat foto pertama. “Itu jembatan yang terlihat dari jendela dapur kita,” jawab suaminya. “Dan ini?” Tanya istrinya lagi.”Itu pemandangan gunung-gunung yang terlihat dari jendela kamar kita.” “Kalau yang ini?” “Itu rumah tetangga yang terlihat dari jendela kamar makan kita”. Percakapan ini terus berlanjut dengan pertanyaan yang sama dari sang istri yang diikuti jawaban sang suami yang terus menjelaskan bahwa: itu pemandangan yang terlihat dari jendela ruang tengah, dari jendela kamar atas, dari jendela kamar mandi dst….” Sang istri mendapat gambaran yang lengkap tentang rumah-rumah tetangga, pohon-pohon, sawah-sawah, gunung-gunung dan jalan-jalan sekitar, karena hampir tiap inci sekeliling rumah ada potretnya, tetapi tidak ada satu foto pun tentang rumah itu sendiri.

Tindakan sang suami itu kelihatannya sangat bodoh, bukan? itulah gambaran yang Tuhan Yesus berikan tentang cara hidup yang kecenderungannya selalu melihat ke luar – suatu kebiasaan mengurusi selumbar di mata orang tanpa melihat balok di dalam matanya sendiri.

Kita menggunakan banyak waktu dan tenaga untuk berkonsentrasi mencari-cari kesalahan orang lain, lalu kita besar-besarkan, kita mencela habis-habisan kekurangan orang lain; tetapi meremehkan kekurangan-kekurangan kita sendiri yang sebetulnya sama gawatnya atau bahkan lebih gawat dari orang tsb.

Suatu kekurangan yang kita dapati pada diri sendiri kita anggap kecil, tapi jika kita dapati pada orang lain akan kita hakimi habis-habisan. Kita jadi orang yang sadis, kejam, tidak kenal ampun terhadap kesalahan orang lain, tetapi terhadap kesalahan diri sendiri, kita begitu, halus dan penuh pengampunan.

Tuhan mau, Gereja-Nya menjadi komunitas yang saling menerima satu dengan yang lain, saling mendoakan, saling menyembuhkan, saling menguatkan, saling mendukung.

Kesadaran bahwa tidak ada orang yang lebih baik di antara kita dan semua adalah anugerah-Nya akan membuat kita bersatu untuk bersama-sama menyingkirkan persoalan dosa yang mengikat kita.

Prinsip: Perubahan harus dimulai dari diri sendiri, bukan dari orang lain

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s