Buah Roh Kudus (3)

7. Kesetiaan (Faith, peitho/pistis)

Peitho adalah kesetiaan yang teguh dan kokoh terhadap ikatan janji, komitmen, sifat layak dipercaya dan kejujuran.

Prinsipnya adalah: kalau anda ingin menuai buah yang bernama kepercayaan, maka anda harus menabur benih yang bernama kesetiaan.

Artinya kalau anda mau dipercaya oleh orang lain. Dipercaya oleh atasanmu, dipercaya oleh orang tuamu, dipercaya oleh pasangan hidupmu, dipercaya oleh anakmu, dipercaya oleh siapa saja, maka anda harus menjadi orang yang setia.

Mother Theressa pernah berkata begini;”saya tidak berdoa untuk kesuksesan, saya meminta kesetiaan”.

Dia meyakini bahwa kesetiaan adalah nilai hidup yang jauh lebih penting daripada kesuksesan.

Sebab: orang yang setia, pasti sukses, tetapi orang sukses belum tentu setia.

Ul. 28:13 berkata:”TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia

Sdr, Alkitab berjanji bahwa: “hari esok anda akan lebih baik daripada hari ini. Hari esok anda harus lebih cerah daripada hari ini. Hidupmu akan tetap naik, dan bukan turun.

Alkitab berkata, persyaratan untuk mengalami Next level dalam hidupmu adalah KESETIAAN.

8. Lemahlembut (meekness, prautes)

Prautes adalah pengekangan yang berpadu antara kekuatan dan keberanian. Sikap rendah hati dan keseimbangan dalam emosi.

Analogi yang digunakan adalah kuda liar yang telah dikendalikan oleh kekang. Seorang pelatih akan memilih seekor kuda liar (tidak bisa dikendalikan), tidak disiplin dan pemberontak lalu dengan ketrampilannya sedikit demi sedikit ia akan menundukkan kuda tsb. Ketika proses situ berakhir, kuda itu akan menjadi lembut. Kuda itu tidak kehilangan kekuatannya. Kekuatannya berada di bawah kendali pelatihnya.

Oleh karena itu kelemahlembutan bisa didefinisikan sebagai sikap hati yang mudah dibentuk, mudah diajar, dan mau berubah.

9. Penguasaan diri (Temperance, egkrateia)

Egkrateia yaitu pembatasan diri dan pengendalian hawa nafsu. Berkaitan dengan kesucian, makan minum, dll.

Kita tidak dilahirkan dengan perlengkapan untuk bisa menguasai diri. Tidak ada anak kecil yang secara otomatis bisa pergi ke toilet sendiri. Setiap orang harus BELAJAR! Belajar itu sebuah proses latihan. Paulus berkata,”aku belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan”. Artinya kita semua harus masuk sekolah kehidupan bersama dengan Roh Kudus yang akan  memperbaharui kita.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s