Endless Love

Demikian tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih. Dan yang terbesar diantaranya ialah kasih.” ~ 1 Korintus 13:13

Martin Luther mengatakan dalam sebuah kutipan, “Iman seperti terang, harus selalu sederhana dan lurus; sedangkan kasih seperti kehangatan, harus memancar ke segala arah dan menyusup ke segala kebutuhan saudara-saudara kita.”

Ketika kasih menjadi semakin tawar…
Betapa sering kita keliru dalam menilai dan menerapkan kasih. Kita biasa bersikap pilih kasih, membeda-bedakan sikap kita kepada orang-orang di sekitar kita. Ada kalanya kita mulai mengukur-ukur kebaikan kita dan cenderung bersikap pamrih. Jika kita berbuat sesuatu, apa yang akan kita peroleh?

Semakin kita menahan kasih kepada orang lain, sumber kasih di dalam kita akan semakin merosot dan tawar. Ketika kasih menjadi tawar, kekecewaan dan kebencian mulai meracuni. Prasangka dan rasa putus asa makin menjerat, maka benih kejahatan semakin merajalela. Karena tanpa kasih, manusia dapat bersukacita atas ketidakadilan dengan tidak merasa bersalah.

Mengapa kita membutuhkan kasih yang kekal?
1. Kita diciptakan karena dan oleh kasih.
2. Kasih yang kekal adalah motivator terbesar dalam hidup.
3. Kasih adalah pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.
4. Dalam kasih selalu tersedia pengampunan dan kesempatan untuk orang lain.
5. Kasih yang kekal adalah kasih yang membangun.

Bagaimana mengembangkan kasih yang tak berkesudahan dalam hidup kita?
Kita dapat mengembangkan kehidupan di dalam kasih yang tak berkesudahan:

1. Menerima kasih Allah yang kekal dan tak terbatas
Tahukah Anda, bahwa syair lagu “Kasih Allah’ yang sangat terkenal ternyata ditemukan oleh penulisnya di dinding sebuah rumah sakit jiwa? Syair itu tergores di dinding yang bersebelahan dengan ranjang seorang pria yang rupanya telah menemukan kasih Tuhan sebelum ia meninggal. Kita tidak akan mungkin dapat mengembangkan kasih yang kekal tanpa terlebih dulu menerima kasih Allah yang kekal dan tak terbatas.

2. Menyadari bahwa semakin kita mengasihi, semakin kuat kasih itu bekerja.
Suzette Hattings seorang pendoa syafaat dan misionari Jerman dalam pelayanannya pernah tertangkap oleh suku-suku pedalaman di Afrika. Ketika akan dieksekusi, Suzette hanya berkata, bahwa meskipun tubuhnya akan dipotong-potong, maka setiap potongan akan berseru, “aku mengasihimu…”. Secara ajaib akhirnya ia luput dari bahaya. Kasih yang kekal takkan pernah padam.

3. Kasih itu sabar dan murah hati
Dalam suasana kasih, kita dapat mengingat sebuah syair. “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati. Ia tidak pamrih, tidak memegahkan diri, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan pribadi. Kasih tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kasih bersukacita karena kebenaran. Kasih itu iklas, mempercayai, membangun pengharapan dan tekun menanggung segala sesuatu.”

Sebagaimana dunia ini memerlukan sinar matahari, demikian pula kita hidup karena dan oleh kasih. Kasih dan kebenaran bagaikan sebuah koin dengan dua sisi yang tak terpisahkan. Kasih yang sempurna menuntun pada kebenaran, dan kebenaran adalah memerdekakan setiap orang dari jerat dosa. Sebab kebenaran merupakan wujud dari kasih yang ilahi.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s