Mentalitas Elia

“Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: TUHAN, Dialah Allah! TUHAN Dialah Allah!” (1 Raja-Raja 18:39).

Paulus mengatakan, bahwa orang yang berambisi untuk “menggembalakan jemaat” adalah orang yang berambisi baik (good ambition/good work), karena ambisi mereka adalah untuk memperhatikan pekerjaan Tuhan yang mulia dan pertumbuhan iman jemaat-Nya (1Tim. 3:1). Namun menjalankan tugas ini (dalam arti luas, tugas sebagai pendeta, penginjil, majelis, pengurus gereja, dsb-nya) bukanlah hal yang mudah. Selain harus menjaga kehidupan pribadi (1Tim. 3:2-13), mereka juga harus memiliki mentalitas pelayanan yang baik di hadapan Tuhan, sebab ambisi yang baik, jika tidak diimbangi dengan mentalitas yang baik, ambisi yang baik itu pada gilirannya bisa menjadi ambisi yang tidak baik.

Salah satu contoh yang berharga dari Perjanjian Lama tentang hal ini adalah kisah pelayanan Elia. Elia adalah seseorang berambisi baik di hadapan Tuhan. Ini terbukti dari pengakuan dirinya bahwa “Aku telah bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN … karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu …” (1Raj. 19:14). Namun bukan berarti Elia tidak pernah jatuh bangun dengan metalitasnya. Ia pernah meminta mati kepada Tuhan hanya karena ancaman Izebel (1Raj. 19:1-8), padahal hari-hari sebelumnya, ia telah mengalahkan nabi-nabi Baal (1Raj. 18:20-46). Itulah dinamika mentalitas Elia, yang bisa saja terjadi pada diri kita. Ketika mentalitas Elia yang baik itu pudar, pudar pulahlah ambisi baiknya bagi Tuhan. Ia hanya mengasihani diri dan putus asa dalam pelayanannya.

Namun Elia telah belajar dari kegegalannya di hadapan Tuhan, dan ia kembali pada mentalitas dan ambisinya yang semula dalam melayani Tuhan. Itulah sebabnya ia kembali pada tugas dan panggilannya di hadapan Tuhan. Bagaimana mentalitas yang baik dari Elia dalam melayani Tuhan? (1Raj. 18:20-40).

(1) Elia tidak putus asa menghadapi tantangan pelayanan. Ketika bangsa Israel tidak menjawab panggilan Elia untuk mengakui TUHAN sebagai Allah yan hidup, hal ini tidak membuatnya berhenti untuk menunjukkan bahwa TUHAN adalah Allah yang hidup. Elia menantang nabi Baal untuk membuktikan siapa Allah yang hidup Baal atau TUHAN, yang pada akhirnya terbukti bahwa TUHAN adalah Allah yang hidup.

(2) Elia tidak mencuri kemuliaan TUHAN. Sekalipun ia seorang diri dan telah memenangkan tantangan itu, sehingga membuat Israel percaya kepada TUHAN adalah Allah yang hidup, hal ini tidak membuat dirinya sombong dan merasa berjasa atas pelayanannya.

(3) Berjuang demi TUHAN dan umat. Dari usaha keras dan perjuangannya, kita tahu bahwa Elia sedang berjuang keras bukan untuk dirinya, tetapi demi TUHAN dan umat-Nya. “Demi TUHAN” adalah agar TUHAN dimuliakan di antara segala bangsa. “Demi Israel” adalah agar mereka mengenal dan mengasihi TUHAN (ay. 36-40). Bagaimana dengan kita? Apa ketiga hal ini tercermin pada mentalitas kita dalam melayani TUHAN? Marilah kita memiliki ambisi yang baik dan mentalitas yang baik pula bagi pekerjaan Tuhan. Amin.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s