Tuhan mengurapiku

“Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah” (Mazmur 23:5)

Mazmur 23 dapat dibagi menjadi dua bagian: 1) ayat 1-4, Daud menggambarkan TUHAN adalah gembalanya; 2) ayat 5-6, adalah seperti seorang tuan rumah yang melayani tamu terhormatnya. Mazmur 23:5 adalah lukisan dari kebaikan dan keramahan seorang tuan rumah ketika mempersiapkan perjamuan makan bagi tamu undanganya. Ini adalah ungkapan perasaan Daud ketika ia melihat bagaimana Allah memperlakukan dirinya dengan begitu baik di sepanjang hidupnya: penuh kebajikan, kebaikan, dan kehormatan.

Pertama, “Engkau menyediakan hidangan bagiku di hadapan lawanku.” “lawan” berarti musuh. Kemungkinan menunjuk pada pengejaran Saul, atau pemberontakan Absalom, Ahitofel dan orang Israel, yang hendak menghancurkan hidupnya. Artinya di hadapan lawannya, di tengah ancaman dan bahaya, di tengah pergumulan dan kesulitan hidup, Allah tetap memperlakukannya dengan baik, Allah tetap memelihara hidupnya (lih. 2Sam. 16:1, 2Sam. 17:27-29, dan 2Sam. 19:32). TUHAN tetap seperti seorang tuan rumah yang melayani tamu terhormatnya dengan penuh kebaikan dan keramahan.

Kedua, “Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak.” Mengurapi kepala dengan minyak adalah kebiasaan orang Yahudi kuno ketika selaku tuan rumah menjamu temu terhormatnya (lih. Luk. 7:44-46). Ini adalah tanda hormat, keramahtamahan dan kebaikan. Selain itu juga merupakan tindakan simbolis dari Allah yang berarti dipilih, dikuduskan dan dikhususkan oleh Allah. Kalimat ini kemungkinan besar berdasarkan pengalaman Daud ketika Ia diurapi oleh Allah menjadi raja atas Israel. Allah memilihnya di antara ribuan orang Israel, dan mengangkatnya di antara saudara-saudaranya yang kelihatan lebih hebat dan gagah perkasa. Pada saat itu, Daud benar-benar merasakan kemurahan dan kebaikan Allah, sama seperti kebaikan dan kehormatan yang diberikan oleh seorang tuan rumah kepada tamu terhormatnya (baca 1Sam. 16:1-13).

Ketiga, “pialaku penuh melimpah.” Piala, berasal dari kata “kos”, sama dengan cawan, secara simbolis memiliki dua makna: 1) positif: berkat, sukacita, dan segala yang baik; 2) negatif: penghukuman atau murka Allah. Piala atau cawan dalam Mazmur 23:5 adalah cawan berkat, sucakita, kebaikan dan kemurahan Allah. Daud mengatakan, “pialaku penuh melimpah” artinya Daud sungguh merasakan berkat, sukacita, kebaikan dan kemurahan Allah yang melimpah dalam hidupnya.

Di tengah kondisi kehidupan yang tidak mudah, penuh bahaya, ancaman, air mata dan kesulitan, Daud tetap dapat merasakan kebaikan dan kemurahan Allah, bagaimana dengan kita?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s