Hidup yang berarti

Bacaan hari ini: 1 Korintus 15:1-28
“Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia…” (1 Korintus 15:10)

Hidup adalah anugerah Allah. Jika hidup itu anugerah Allah, maka sudah sepatutnya kita memanfaatkannya untuk hal-hal yang berarti bagi Allah yang telah menganugerahkannya kepada kita, sebagai suatu ungkapan syukur bagi-Nya. Itulah kira-kira yang Paulus ingin katakan dalam bagian ayat di atas, yang juga telah menjadi konsep Paulus dalam keberadaan hidupnya yang telah diperbaharui Allah.

Mengapa Paulus memiliki konsep hidup yang demikian? Jawabannya, karena kuasa kebangkitan Kristus! Jika kita mencoba melihat ke belakang tentang siapa dan apakah yang telah Paulus lakukan sebelumnya, maka kita akan setuju dengan jawaban di atas tadi.

Paulus adalah seorang yang dapat membanggakan dirinya dengan keberadaannya secara lahiriah. Ia adalah seorang Ibrani tulen (2Kor 11:22; Flp. 3:4, 5; Kis. 21:39; 22:3; 23:6). Secara pendidikan, ia seorang sarjana besar, ahli dalam Taurat, yang didik langsung oleh imam Gamaliel (Kis. 22:3). Berdasarkan ketentuan-ketentuan Yahudi, Paulus mempunyai hak yang lebih besar lagi untuk dihormati. Dia adalah orang Farisi (Kis. 23:6; Flp 3:5). Merekalah kelompok yang paling istimewa dari bangsa Yahudi. Ia juga memiliki kewarganegaraan Romawi. Dan dia bangga akan keberadaannya itu (Kis. 16:35-39; 22:25). Oleh karena ketaatan dan kesetiaannya kepada agamanya, dengan semangat yang berkobar-kobar disertai dengan surat kuasa dari Imam Besar (Kis. 9:1, 2), Paulus pergi untuk menangkapi dan membunuhi orang-orang percaya. Terkenal-lah ia sebagai seorang yang menentang Kristus dan penganiaya jemaat.

Namun, setelah mengalami perjumpaan dengan Kristus yang bangkit serta jamahan kuasa kebangkitan-Nya (Kis. 9:1-19a), terjadilah suatu perubahan hidup yang baru, total dan radikal dalam hidup Paulus (Gal. 2:19-20). Dahulu, ia bangga akan keberadaan diri dan status lahiriahnya, sekarang semua itu dianggapnya rugi dan sampah karena pengenalannya akan Kristus. Itulah alasan Paulus melepaskan semuanya itu; baginya sekarang, Kristus lebih mulia (Flp. 3:4-11).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s