Berani Bersikap Tegas

Bacaan hari ini: 2 Korintus 10:1-10
“Tetapi hendaklah orang-orang yang berkata demikian menginsafi, bahwa tindakan kami, bila berhadapan muka, sama seperti perkataan kami dalam surat-surat kami, bila tidak berhadapan muka.” (2 Korintus 10:11)

Ketika membaca ay. 1-2 pasal ini, mungkin kita dibingungkan dengan perkataan Paulus yang mengatakan tidak berani bila berhadapan muka dengan jemaat di Korintus, tapi berani bila berjauhan (lewat surat). Sepertinya, Paulus adalah seorang yang plin-plan, pengecut, tidak konsisten dan hanya berani berkata keras melalui surat saja. Tetapi apakah benar Paulus punya sikap yang demikian?

Membaca ay. 1-2 ini harus dikaitkan dengan ay. 9-11, dan barulah kita mengerti apa yang Paulus maksudkan. Rupanya saat itu ada sekelompok orang yang menganggap diri rasul (ps. 11:5) yang menuduh bahwa ketika berhadapan muka dengan para pembacanya, Paulus tidak berani. Artinya, ketika di Korintus, Paulus memperlihatkan hati yang lunak, sikap yang tidak tegas. Tetapi ketika berjauhan dan berbicara lewat surat, ia berani berkata keras dan tegas. Jadi apa yang Paulus katakan dalam ay. 1 dan 10 itu sebenarnya merupakan tuduhan yang dilontarkan padanya, dan hal itu dijawab dengan tegas oleh Paulus di ay. 11, bahwa tindakan Paulus bila berhadapan muka, sama seperti perkataannya dalam surat-suratnya yang berani, tegas dan keras. Paulus tidak pernah takut terhadap manusia ketika ia mengatakan kebenaran dan menegur dosa manusia (Kis. 15:2; 23:1-5). Namun Paulus menghimbau agar ia tidak dipaksa untuk membuktikan keberaniannya yang sesungguhnya ketika kembali lagi di Korintus (ay. 2).

Bukan memamerkan kuasa dan keberanian, itu yang sesungguhnya Paulus inginkan. Ia lebih suka datang dalam kelemahlembutan dan keramahan seperti Kristus, yang ia teladani. Rupanya kelemahlembutan dalam menghadapi penghinaan dan penderitaan inilah, yang dianggap sebagai ketidakberanian. Tetapi bila memang diperlukan, Paulus tidak pernah takut untuk bertindak berani, keras dan tegas dalam melawan dan merubuhkan keangkuhan mereka yang menentang pengenalan manusia akan Allah, menindak dengan tegas orang-orang yang durhaka (ay. 3-6). Keberanian diri Paulus ini bukanlah untuk meruntuhkan, tapi justru untuk membangun jemaat. Bagaimana dengan kita?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s