Lemah Tapi Kuat

Bacaan hari ini: 2 Korintus 12:1-10
“Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaaan,di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus.” (2 Korintus 12:10)

Tahukah Anda jika beberapa tanaman yang menghasilkan buah harus mengalami tahap pencacahan/pelukaan di bagian batang kemudian pemangkasan dahan dan ranting, agar berbuah lebat? Benar, inilah tahap yang seringkali dilewati ketika seseorang menanam tananam buah, sehingga tidak jarang muncul pembicaraan seperti demikian, “kok saya sudah beli tanaman buah, tapi tidak berbuah terus?” atau “tanaman buah ini hanya berbuah sedikit.” Masalahnya adalah, karena tahapan ini tidak dilakukan dengan baik.

Paulus, pada perikop yang kita baca, menceritakan apa yang menjadi kelebihan dirinya. Ia diangkat sampai ke surga dan mendapat penglihatan langsung dari Allah sendiri. Namun Paulus tidak menganggap hal-hal ini menjadi kekuatan, apalagi pantas untuk dibanggakan (ay. 5). Pada bagian ini, ia hendak menyatakan bahwa ia bertumbuh justru karena ada sesuatu yang mengganggu dirinya, yaitu kelemahannya (duri dalam dagingnya). Kelemahan ini mengganggunya. Beberapa ahli menafsirkan kelemahan ini adalah kondisi fisik matanya yang mulai memudar, beberapa ahli yang lain menafsirkan sebagai maraknya ajaran sesat, dan beberapa ahli yang lain pula menafsirkan adanya gangguan Iblis dan roh jahat atas dirinya. Namun apapun itu, Paulus berdoa kepada Tuhan agar kelemahan ini boleh diambil dari dirinya.

Yang menarik adalah, Tuhan tidak mengambil gangguannya ini (duri dalam daging). Tuhan justru membiarkan gangguan kelemahannya ini agar Paulus tidak meninggikan diri, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahan kuasa-Ku menjadi sempurna” (ay. 7). Tuhan justru ingin, dengan gangguan kelemahan ini, Paulus semakin berbuah! Paulus tidak meninggikan dirinya dan bergantung kepada Tuhan. Lalu, bagaimana dengan kita? Kadangkala Tuhan melakukan hal yang sama dalam hidup kita, sama seperti Paulus, dengan tujuan, agar kita lebih mengandalkan Tuhan. Pertanyaannya adalah, “Maukah kita berbuah justru karena Tuhan tidak mengambil apa yang menjadi kelemahan dan kesakitan kita?”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s