Lebih Bersungguh-Sungguh Lagi

Bacaan hari ini: 1 Tesalonika 4:1-12
“Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan menasihatkan kamu…” (1 Tesalonika 4:1)

Salah satu definisi sebuah kesuksesan seseorang sering ditentukan hanya oleh “apakah orang tersebut melakukan segala sesuatunya dengan lebih bersungguh-sungguh atau tidak.” Keberhasilan diukur dengan “apakah dirinya telah melakukan segala sesuatu dengan ‘LEBIH’ daripada orang lain.” Misal, seseorang pedagang yang sukses, terkadang hanya karena dirinya “membuka tokonya lebih awal dan menutup tokonya lebih malam” daripada toko lainnya.

Pasal 4 ini dimulai dengan kata “Akhirnya;” kata ini menandai sebuah peralihan besar dalam pokok pembahasan dan memberikan kesan bahwa akhir surat sudah dekat. Kata ini juga mengingatkan Jemaat Tesalonika, bahwa ada sesuatu yang juga penting untuk selalu diingat dan dikerjakan. Jadi bukan sesuatu yang akan berakhir (berhenti) di sini saja. Oleh sebab itu, perhatikan permohonan Rasul Paulus, yang dituliskan, “kami minta dan nasihatkan”; keduanya dapat diterjemahkan dengan dua kata yang lebih kuat yaitu “kami berseru dan memohon.” Itu berarti kalimat selanjutnya merupakan sebuah seruan dan permohonan yang perlu diperhatikan oleh Jemaat Tesalonika.

Permintaan dan nasihat Paulus itu adalah: (1) Kamu harus hidup berkenan kepada Allah. Itu berarti kepentingan diri sendiri harus kita letakkan di bawah kepentingan Allah. Kerinduan hati kita adalah semata-mata untuk mencari kehendak Allah dalam setiap aspek kehidupan kita. Di sinilah kita akan dapat menikmati hidup yang berkenan kepada Allah. (2) Melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi. Hakikat dari perintah Paulus adalah bahwa jemaat harus terus melakukan apa yang telah dan sedang mereka lakukan, hanya dengan lebih giat, lebih berlimpah (ps. 3:12 dan 4:10 untuk pemakaian lain dari kata “perisseuo”); yaitu mengerjakan segala sesuatu yang berkenan kepada Allah, bukan sebagai sesuatu yang bersifat rutinitas belaka, tapi sesuatu yang lebih dan semakin berlimpah (giat dan sungguh-sungguh) saat mereka hidup berkenan kepada Allah. Bagaimana dengan kita?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s