Iman, Kerelaan untuk Menaati

Bacaan hari ini: Ibrani 11:17-19
“Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal” (Ibrani 11:17)

Dikisahkan, suatu hari seorang petani Kristen berkata kepada istrinya bahwa ia ingin memberikan persembahan untuk pekerjaan Allah. Saat itu, salah satu sapi betinanya sedang hamil dan beberapa saat kemudian akan melahirkan. Karena itu, petani itu berkata, bahwa nanti ia akan mempersembahkan anak sapi itu kepada Allah. Beberapa waktu berlalu, dan tibalah waktu bagi induk sapi itu untuk melahirkan. Ternyata, induk sapi itu melahirkan dua ekor anak sapi. Petani itupun menjadi bingung. Dia mulai berpikir-pikir, anak sapi yang manakah yang akan ia persembahkan kepada Allah. Ketika istrinya menanyakan hal itu, ia pun menjawab: “Biarkanlah anak-anak sapi itu bertumbuh lebih besar terlebih dahulu. Setelah mereka cukup besar, barulah akan kuputuskan anak sapi mana yang akan kupersembahkan kepada Allah.” Seminggu kemudian, daerah itu diserang wabah penyakit ternak. Salah satu dari kedua anak sapi milik petani Kristen itupun terjangkit penyakit tersebut, dan tidak dapat diselamatkan alias mati. Ketika petani itu mendapati bahwa anak sapinya itu mati, ia segera keluar kandang dan lari menuju rumahnya serta berkata kepada istrinya: “Bu, aku baru saja dari kandang dan kudapati bahwa sapinya Allah mati.” Istrinya pun keheranan dan bertanya: “Apa? Sapinya Allah? Bukankah engkau belum memutuskan sapi mana yang hendak kaupersembahkan?” Petani itupun menjawabnya: “Ya, kemarin memang belum kuputuskan, tapi ketika aku tadi berada di kandang, aku telah memutuskan, bahwa yang mati itu adalah sapinya Allah.”

Betapa seringnya kita juga berlaku seperti petani itu. Kita tidak mau memberikan yang terbaik bagi Allah. Kita cenderung mengambil apa yang terbaik bagi diri sendiri. Namun, tidak demikian halnya dengan Abraham. Ketika Allah meminta yang terbaik dari padanya, Abraham dengan rela mempersembahkan kepada Allah. Ia rela mempersembahkan Ishak, anak tunggalnya, kepada Allah, yang telah ia terima dari Allah pada masa tuanya (ay. 17). Bagaimanakah dengan kita?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s