Melepaskan Segala Jebakan Kesuksesan

Bacaan hari ini: Ibrani 11:24-26
“Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa” (Ibrani 11:24-25).

Ada sebuah kisah tentang seekor monyet yang hidup di alam bebas. Saat musim yang sulit untuknya mencari makanan, ia berkeliling ke seluruh wilayah, namun tak kunjung menemukan pisang. Akhirnya ia sampai di sebuah tempat, ia melihat ada sesisir pisang di dalam sebuah wadah. Ia mendekatinya dan semakin terlihat jelas bahwa pisang tersebut sudah matang dan sangat menggiurkan. Ia pun mencoba mengambilnya. Ternyata, pisang tersebut berada dalam sebuah jebakan. Ia memasukkan tangannya untuk mengambil pisang itu, namun ia tak dapat mengeluarkan tangannya bersama pisang tersebut. Ia bisa lolos jika ia tidak mengambil pisang tersebut. Namun, monyet itu tetap bersikeras mengambil pisang itu karena ia kelaparan; ia bersikeras menggenggam pisang itu namun tetap tidak bisa keluar. Kejadian ini berlangsung terus sampai akhirnya pemburu berhasil menangkap monyet tersebut. Kisah monyet di atas sama dengan jebakan dalam kesuksesan hidup kita. Cara untuk lepas dari jebakan kesuksesan adalah dengan mencoba untuk lepas, atau keluar dari zona nyaman kita.

Demikianlah kondisi hidup Musa. Sejak kecil ia sudah berada dalam zona nyaman dan yang menurut ukuran dunia umumnya, sesungguhnya ia sedang berada dalam kehidupan yang penuh dengan kesuksesan. Karena, sebagai anak angkat putri Firaun, ia beroleh kekayaan, kehormatan, kuasa, dan berbagai macam kesenangan hidup yang dapat ia nikmati, sepanjang umurnya. Namun semuanya itu ia tolak. Kitab suci mencatat bahwa setelah Musa dewasa, ia menolak disebut anak putri Firaun (ay. 24). Mengapa demikian? Jawabanya adalah: karena iman! Karena iman, Musa rela untuk meninggalkan kehidupan masa depan yang gemilang. Musa adalah calon pengganti Firaun, raja Mesir yang agung. Musa rela mengidentifikasikan dirinya dengan umat Allah. Musa rela hidup dalam penderitaan, dalam ketidak-pastian, dan dalam perjuangan yang berat menuju tanah perjanjian yang telah disediakan Allah bagi umat-Nya, Israel (ay. 25). Jika demikian, bagaimanakah dengan Anda?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s