Menjadi Dewasa di Dalam Tuhan

Bacaan hari ini: Yakobus 1:1-27
“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; Sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” (Yakobus 1:22)

Surat Yakobus ini ditulis oleh saudara Tuhan Yesus. Dalam pasal 1 ini kita bisa belajar beberapa hal mendasar agar kita menjadi dewasa di dalam Tuhan. Pertama, kita memerlukan hikmat Tuhan. Dalam kehidupan ini, tidak kehidupan yang terus nyaman dan bahagia. Ada pencobaan dan ujian yang harus kita hadapi. Untuk itu, kita memerlukan hikmat Tuhan sehingga kita bisa melihat bahwa pencobaan dan ujian yang kita alami, pada akhirnya akan mendatangkan kebaikan bagi kita. Ke manakah kita bisa menemukan hikmat itu? Firman Tuhan mengatakan, Tuhan lah sumber hikmat. Karena itu, mintalah kepada-Nya, sehingga kita dapat melihat semua pencobaan dan ujian hidup, dari perspektif Tuhan.

Kedua, kita memerlukan keyakinan akan kebaikan diri Tuhan. Banyak orang ketika mengalami pencobaan dan penderitaan, cenderung untuk menyalahkan Tuhan dan akhirnya mereka meninggalkan Tuhan. Padahal, Firman Tuhan dengan jelas mengatakan kepada kita, bahwa Allah tidak mencobai siapapun karena tidak mungkin yang jahat itu berasal dari Allah yang baik. Justru kenyataannya, penderitaan dan pencobaan yang kita alami berasal dari keinginan diri kita sendiri, yang seringkali menyeret kita kepada perbuatan dosa. Kita harus mempunyai keyakinan bahwa Allah yang kita sembah itu adalah Allah yang baik. Dengan demikian, di dalam keadaan apapun, kita tidak berpaling dari Tuhan, melainkan datang mencari-Nya dan berharap hanya kepada-Nya.

Ketiga, kita membutuhkan Firman Tuhan. Seseorang yang ingin bertumbuh dan menjadi dewasa rohani tentu memerlukan makanan rohani, yakni Firman Tuhan. Firman Tuhan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan kita, dan mendidik kita dalam kebenaran (2Tim. 3:16). Yohanes menggambarkan Firman Tuhan, bagaikan cermin yang mengoreksi hidup kita, sehingga kita bisa semakin serupa dengan Tuhan. Karena itu, kita haruslah menjadi pelaku-pelaku firman, dan bukan hanya sekadar pendengar saja.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s