PERLIHATKAN KEMULIAAN-MU YA TUHAN

“Langit memberitakan keadilan-Nya,
dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya.”
(Mazmur 97:6)

Hari-hari ini banyak gereja, anggota jemaat; bahkan pelayan Tuhan yang kehilangan kerinduan yang mendalam akan Pribadi Tuhan, sehingga ibadah dan pelayanan berubah menjadi sebuah rutinitas yang tidak mengalami lawatan Tuhan dan memberi dampak. Pentakosta ke-3 adalah suatu kondisi di mana Allah mencurahkan kemuliaan-Nya seperti hujan yang sangat lebat dan ini hanya terjadi pada tanah yang haus, yaitu jiwa dan hati yang sangat merindukan Tuhan. Karena itu biarlah setiap kita berkata seperti ayat di atas: “Perlihatkan Kemuliaan-Mu Tuhan.”

Gembala Sidang dengan tegas menyampaikan pesan Tuhan agar dalam ibadah, dan kehidupan kita sebagai orang percaya selalu mengalami hadirat-Nya. Kemuliaan-Nya membuat diri kita, hidup kita ada dalam jalan Tuhan, jalur Tuhan dan perkenanan Tuhan. Nabi Habakuk menulis: “Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut.” Alkitab mencatat banyak kisah tentang Tuhan yang memperlihatkan Kemuliaan-Nya kepada orang Israel, Nabi dan para Imam-imam yang memiliki kehausan; kerinduan dan dorongan yang kuat dari dalam hatinya.

1. Salomo Dan Kemuliaan Tuhan di Bait Allah
”Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suara-nya untuk menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada Tuhan. Mereka menyaringkan suara dengan nafiri, ceracap dan alat-alat musik sambil memuji Tuhan dengan ucapan: “Sebab Ia baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.“ Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah Tuhan, dipenuhi awan sehingga imam-imam itu tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab KEMULIAAN TUHAN memenuhi rumah Allah.“ (II Tawarikh 5:13-14)

Suatu ibadah yang dahsyat, luar biasa, yang tidak dapat dilupakan; bahkan selalu diinginkan untuk terjadi dan terulang kembali, pemandangan dan lawatan yang hebat dari kehadiran Allah melalui kemuliaan-Nya.
• Sudah berapa lama ibadah kita, pelayanan kita bahkan hidup kita tidak mengalami, merasakan lawatan dan jamahan Tuhan?
• Apa yang terjadi dengan diri kita, hidup kita, pelayanan kita, ibadah di gereja kita sehingga tidak lagi atau kurang mengalami lawatan-Nya?

Pernahkah kita, merenungkan, memikirkan bahwa mengapa hal itu tidak lagi terjadi? Kalau kita simak ayat di atas; itu adalah suatu kejadian dahsyat yang ditunjukkan Tuhan dalam ibadah Salomo di Bait Allah, di mana Allah melangkah turun dari sorga dengan segala kemuliaan-Nya untuk melawat umat-Nya, setelah Salomo menaikkan doa, pujian-penyembahan dari hati yang terdalam dengan kerinduan yang kuat untuk melihat kemuliaan-Nya dan kemuliaan itu memenuhi rumah Allah. Masihkah kita memiliki keinginan dan kerinduan serta kehausan yang kuat dalam diri, hidup bahkan hati untuk mengatakan, “Perlihatkan kemuliaan-Mu Tuhan,” atau itu sudah hilang dari dalam jiwa dan hati kita. Penuhi hati dan jiwa kita dengan kerinduan yang kuat untuk lawatan Tuhan melalui doa, pujian dan penyembahan.

2. Musa Dan Kemuliaan Tuhan Di Sinai
“Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian yaitu Kesepuluh Firman. Ketika Musa turun dari gunung Sinai – kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun dari gunung itu – tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN.” (Keluaran 34:28-29)

Bukankah ini suatu kondisi yang sangat kita inginkan untuk bersama-sama dengan Tuhan dalam kemuliaan-Nya, atau keinginan ini telah berlalu dari hidup kita, atau menjadi masa lalu yang telah kita tinggalkan? Kembalilah kepada kasih yang semula, sebab Tuhan juga sangat merindukan untuk menyatakan kemuliaan-Nya dalam hidup kita. Musa membayar harga dengan puasa dan ber-SABAT dengan Tuhan, menyendiri dengan Allah. Tinggalkan rutinitas dan kesibukan yang berpusat pada diri yang tanpa disadari membuat jarak yang jauh dan hilangnya kehausan yang kuat akan hadirat-Nya, beralih kepada hati dan jiwa yang hanya ditujukan kepada Allah.

Kapan terakhir kali, kita ber-sabat dengan Tuhan, menikmati waktu-waktu kesendirian bersama Allah dalam kemuliaan-Nya? Masih adakah keinginan itu dari dalam hati kita? Dalam tahun Ibrani makna tahun ini juga adalah tahun Sabat, mengkhususkan waktu bersama-sama dengan Allah dalam saat teduh pribadi untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Suatu keinginan yang harus dibangkitkan dalam jiwa dan hati setiap anak Tuhan, keinginan yang lebih untuk duduk diam di bawah kaki Tuhan seperti Maria.

3. Tuhan Yesus Menyatakan Kemuliaan-Nya Di Depan Murid-Murid-Nya
“Enam hari kemudiaan Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.“ (Matius 17:1-2)

Suatu keadaan yang tidak seperti biasanya yang dialami oleh ke-3 murid Yesus, ketika mereka berada di tempat yang tersendiri bersama Yesus. Situasi ini memberikan pemahaman yang sederhana bahwa ada dimensi tertentu yang diinginkan Tuhan dalam rohani dan kehidupan kita untuk dapat melihat kemuliaan-Nya. Dimensi kehidupan dan rohani yang makin naik, makin tinggi membawa perubahan dalam hati dan jiwa kita tentang kekudusan dan kerinduan kepada Allah yang lebih lagi.

Hanya dengan keinginan yang kuat dan kehausan yang hebat serta komitmen untuk menjaga kesucian hati dan perbuatan tangan kita terhadap Allah yang akan membuat kita bisa naik dalam dimensi rohani yang lebih tinggi lagi. Hal itu menjadi motivasi dalam diri kita untuk naik dalam gunung Tuhan dan berjumpa dengan kemuliaan-Nya.

• “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya……” (Mazmur 24:3-4)
• “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.“ (Matius 5:8)

Karakteristik kehidupan seperti inilah yang harus lebih ditingkatkan lagi dengan cara melakukan kehendak Allah pada zaman ini, sehingga kita bisa berdiri di tempat kudus-Nya Allah dan melihat Allah dalam kemuliaan-Nya, seperti Musa yang berhadapan dengan Allah melalui semak yang terbakar dan berbicara dengan Allah.

Tuhan akan memperlihatkan kemuliaan-Nya bagi mereka yang menaikkan standart kekudusan dan kerohanian dalam hati dan jiwa serta kehidupannya.
Kerinduan yang sama seharusnya ada pada hati dan jiwa kita, seperti yang dikatakan pemazmur kepada Tuhan untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya, dalam era Pentakosta yang ke-3 ini, biarlah setiap orang percaya, pelayan Tuhan dan gereja Tuhan memiliki, kerinduan, kehausan dan keinginan yang lebih lagi untuk mengalami lawatan dan jamahan kemuliaan-Nya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s