Tujuh Murka Allah

Bacaan hari ini: Wahyu 16:1-21
“Pergilah dan tumpahkanlah ketujuh cawan murka Allah itu ke atas bumi.” (Wahyu 16:1)

Akhir zaman merupakan sebuah peristiwa yang membuat setiap anak Tuhan memperhatikan kehidupannya selama tinggal dalam dunia ini. Peristiwa akhir zaman akan membawa kita kepada pengenalan akan Allah yang benar dan membuka tipu muslihat si-Jahat.

Rasul Yohanes dalam bagian ini hendak menunjukkan ke-tujuh cawan murka Allah itu ditumpahkan, pada saat tepat sebelum Kristus kembali ke dunia ini. F.F. Bruce, seorang sarjana ahli Perjanjian Baru, mengatakan pendapatnya tentang pasal ini: “Seluk-beluk malapetaka-malapetaka dalam pasal ini—juga pasal-pasal sebelumnya adalah simbolis, tetapi walaupun demikian, semuanya menyatakan suatu realitas yang dahsyat.” Artinya, simbol yang menggambarkan tentang malapetaka-malapetaka tersebut bisa dijadikan peringatan bahwa Allah serius menindak perbuatan dosa. Namun, manusia justru menghujat Allah dan tetap pada kesombongannya (2Tim. 3:1-9). Kesabaran Allah “ada batasnya.” Akhirnya, Allah memutuskan menutup kesempatan bagi manusia untuk bertobat. Itu berarti, terjadilah murka Allah yang sesungguh-sungguhnya dan sepenuh-penuhnya, seperti yang pernah Allah timpakan kepada bangsa Mesir, harus ditimpakan kepada umat manusia. Bumi, laut, udara, bergejolak dahsyat menuju kehancuran dan kebinasaan. Raungan dan jerit kesakitan umat manusia hanya buang-buang waktu saja! Empat cawan pertama berhubungan dengan alam semesta dan tiga cawan terakhir, sebagai puncak murka Allah bagi dunia dan isinya.

Di tengah kengerian murka Allah yang begitu dahsyat dan menghancurkan dunia ini, Rasul Yohanes menitipkan sebuah pesan sebagai ungkapan hati Allah bagi setiap anak-Nya, yaitu “Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan yang meperhatikan pakaiannya, supaya ia jangan berjalan dengan telanjang dan jangan kelihatan kemaluannya” (Why. 16:15). Berjaga-jaga adalah sikap sejati seorang anak Tuhan untuk mewujudkan kekudusan hidup dan kesetiaan mengiring Tuhan sampai akhir hidupnya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s