Jangan Menuntut Pembalasan

Bacaan hari ini: Kejadian 34:1-30
“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah,…” (Roma 12:19)

Seringkali berita di media, baik koran/majalah/televisi menunjukkan kepada kita bahwa seringkali kejahatan yang dilakukan seseorang, dibalas dengan kejahatan terhadap orang tersebut. Prinsip ini telah menjadi prinsip yang umum diterima sejak zaman dulu. Alkitab memberikan gambaran tentang kejahatan yang dilakukan anak-anak Yakub terhadap Sikhem dan Hemor, serta penduduk di mana mereka tinggal.

Apa yang dilakukan oleh Sikhem, anak Hemor yang memperkosa Dina, adik dari Simeon dan Lewi, yang merupakan anak Yakub dari Lea, memang tidak dapat dibenarkan. Karena pemerkosaan itu membawa aib bagi keluarga Yakub. Meski Yakub berusaha untuk menyembunyikan berita itu terhadap anak-anaknya (Kej. 34:5), namun berita itu akhirnya diketahui anak-anak Yakub, karena Sikhem meminta ijin untuk menikahi Dina di depan Yakub dan anak-anaknya. Selanjutnya, anak-anak Yakub memberi syarat, bahwa orang yang mengawini adik mereka, harus disunat. Hemor dan Sikhem menyetujui usul itu. Setelah disunat, pada hari ketiga mereka menderita kesakitan, maka datanglah Simeon dan Lewi, dan membunuh seluruh laki-laki yang tinggal di kota itu. Kemudian baru mereka membawa Dina keluar dari rumah Hemor dan Sikhem.

Peristiwa ini tentu saja tidak bisa dibenarkan perbuatan jahat dibalas dengan kelicikan dan perbuatan jahat. Perjanjian baru menegaskan tentang kasih; di mana setiap orang Kristen dituntut untuk melakukan kasih tersebut. Lebih lagi, firman Tuhan melarang setiap orang Kristen untuk melakukan pembalasan. Paulus mengingatkan dalam Roma 12:19, bahwa “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.” TUHAN menghendaki agar setiap orang Kristen yang mengalami perlakukan yang tidak baik, tetap berharap dan bersandar kepada TUHAN. Mengapa demikian? Karena TUHAN lebih tahu apa yang harus dilakukan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s