Kuduskanlah Hari Sabat

Bacaan hari ini: Keluaran 31:12-17
“… sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat.” (Keluaran 31:17)

Sebagai orang Kristen, hari Minggu “dikhususkan” untuk Tuhan, di mana kita berhenti dari segala aktivitas pekerjaan dan beribadah pada-Nya. Hari Minggu disebut “hari Sabat.” Namun pertanyaannya, bagaimana kita menghayati hari Sabat? Apakah kita melakukannya sama seperti bangsa Israel melakukannya?

Pertama, hari Sabat merupakan perjanjian antara Allah dengan Israel. Allah berfirman: “Haruslah orang Israel memelihara hari Sabat, dengan merayakan sabat, turun-temurun, menjadi perjanjian kekal” (ay. 16). Konsekuensi pelanggaran terhadapnya adalah hukuman mati (ay. 15). Namun, bagaimana dengan kita? Mengapa kita tidak dibinasakan Tuhan tatkala melanggarnya? Peraturan ini sesungguhnya adalah perjanjian antara Allah dengan bangsa Israel saat itu. Namun bagi kita, sebagai umat Allah di dalam Kristus, perjanjian ini tidak berlaku, sebab segala tuntutan hukum Taurat telah diselesaikan dalam Kristus. Itulah sebabnya, Paulus menegaskan “kebebasan” orang Kristen dalam Kristus tentang hari Sabat Israel ini, “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai…hari Sabat” (Kol. 2:16; bdk. 4:10). Jika demikian, mengapa kita tetap memelihara/menguduskan hari Sabat?

Kedua, hari Sabat sebagai kehendak dan anugerah Tuhan. Kebebasan dalam Kristus telah melepaskan kita dari aturan hari agamawi bangsa Israel. Itu sebabnya, kita tidak memakai hari Sabtu sebagai hari Sabat, seperti tradisi mereka. Sebaliknya, kita memakai hari Minggu, karena pada hari pertama itulah, Kristus telah bangkit, dan menyatukan kita orang berdosa dengan Allah (Yoh. 20:1). Namun penghayatan hari Sabat tetap harus kita lakukan, bukanlah berdasarkan Taurat Musa, melainkan karena itu adalah kehendak dan anugerah Tuhan, agar kita bersekutu kepada-Nya dan berhenti dari jerih lelah kita. Hargailah anugerah Allah ini, dengan kita rajin beribadah kepada-Nya (Kel. 8-11), sebagai persiapan di man

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s