Persembahan yang Terbaik

Bacaan hari ini: Imamat 7:22-27
“… segala lemak dari lembu, domba ataupun kambing janganlah kamu makan.” (Imamat 7:23)

Seringkali kita mendengar seseorang berkata, “Mari kita memberikan persembahan yang terbaik buat Tuhan.” Sejauh mana pengertian kita mengenai kata “terbaik”? Apakah ketika memberi persembahan dengan jumlah yang sangat besar, disebut yang terbaik? Yesus pernah memuji persembahan yang terbaik dari seorang wanita miskin yang hanya memberi 2 peser dari kemiskinannya (Luk. 21:1-4). Memberi dari ketulusan hati, itulah yang dilihat oleh Tuhan.

Kitab Imamat sangat terperinci menjelaskan kepada kita berkaitan dengan korban persembahan yang harus dipersembahkan kepada Tuhan dan yang berkenan di hadapan-Nya, sehingga dalam mempersembahkan korban bakaran, korban sajian, korban penghapus dosa, korban penebus salah, persembahan pentahbisan dan korban keselamatan (ay. 37), semua itu haruslah yang tidak bercacat dan yang terbaik dari bagian korban, itulah yang harus dipersembahkan kepada Tuhan. Secara simbolis, lemak merupakan bagian terbaik dari korban binatang yang khusus, yang harus dipersembahkan semuanya kepada Tuhan (bdk. Kej. 4:4, persembahan Habel yang diperkenan Tuhan). Karena itu, Tuhan melarang bangsa Israel untuk memakannya. Sedangkan darah melambangkan hidup (Ul. 12:23). Secara simbolis, tidak makan darah berarti menghargai hidup. Akan tetapi, darah binatang yang dikorbankan di mezbah dalam Perjanjian Lama, ini melambangkan pengorbanan Kristus di salib untuk keselamatan manusia. Oleh karena itu, darah yang dicurahkan di mezbah ini melambangkan pemberian terbaik Allah bagi keselamatan umat-Nya.

Pada zaman ini, kita memang tidak perlu lagi membawa korban binatang untuk dipersembahkan seperti dalam PL, karena Kristus telah datang dan Dia telah menjadi korban bagi semua umat manusia, sehingga kita beroleh keselamatan. Sebagai ucapan syukur atas pengorbanan-Nya, marilah kita mempersembahkan seluruh hidup kita sebagai persembahan yang terbaik bagi Tuhan (Rm. 12:1), yaitu semua yang keluar dari ketulusan hati kita hanya untuk menyenangkan hati Tuhan semata.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s