Tahun Sabat dan Tahun Yobel

Bacaan hari ini: Imamat 25
“Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku.” (Imamat 25:23)

Semua peraturan yang Tuhan berikan kepada manusia diberikan dengan tujuan dan maksud yang baik. Demikian juga dengan peraturan tahun Sabat dan tahun Yobel yang Tuhan berikan kepada umat Israel yang akan segera memasuki tanah perjanjian. Dalam ayat 23, dengan jelas sekali Tuhan mengatakan bahwa Ia adalah pemilik dari tanah yang mereka akan miliki; karena itu orang Israel diminta untuk mengurus tanah itu dengan baik, sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh sang Pemilik. Tuhan sebagai sang Pemilik tanah memberikan ketentuan tentang tahun Sabat dan tahun Yobel untuk mengajarkan kepada kita beberapa hal.

Pertama, Tuhan ingin agar waktu istirahat dan bekerja kita seimbang. Ketentuan tentang hari penghentian, memberikan istirahat baik bagi tanah, binatang maupun orang-orang yang bekerja, sehingga tidak ada yang tereksploitasi. Adakah selama ini kita telah menerapkannya dalam hidup kita? Banyak orang sibuk bekerja sepanjang minggu demi mengejar uang, tetapi melupakan keseimbangan dalam hidupnya, sehingga hubungan dengan Tuhan terganggu, hubungan dengan keluargapun juga renggang. Ingatlah bahwa Tuhan adalah sang Pemilik dari ladang/tempat kita bekerja. Aturan yang Dia berikan, pasti memberikan kebaikan bagi kita.

Kedua, ketentuan tahun Yobel juga mengajarkan kepada kita untuk lebih peduli terhadap orang miskin, dengan demikian ada keseimbangan dan keadilan dalam masyarakat antara yang kaya dan miskin. Pada tahun Yobel, budak-budak Yahudi haruslah dibebaskan dan tanah-tanah yang tergadai, juga dikembalikan. Selama tahun tersebut, tanah dikembalikan kepada pemilik semula. Selama tahun itu juga, utang harus dihapuskan, dan tiap tanaman yang tumbuh sendiri dibiarkan untuk orang miskin (Ul. 15:1-11). Adakah kita mempunyai hati yang peduli kepada mereka yang kekurangan? Atau, kita lebih suka menutup mata terhadap kebutuhan orang lain? Ingatlah bahwa kita ini hanya hamba yang mengelola apa yang Tuhan percayakan sehingga kita harus menggunakannya dengan bijak-sana, untuk kemuliaan-Nya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s