Tuhan Gunung Batu Keselamatanku

Bacaan hari ini: 2 Samuel 22:2-3
“Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!” (Mazmur 18:3)

Secara umum, Kitab 2 Samuel 22 dan Mazmur 18 memiliki kesamaan. Kedua bagian kitab suci ini menggambarkan latar belakang ucapan syukur Daud kepada TUHAN. Hal ini dilakukan Daud sebagaimana dicatat dalam ayat 1, “Daud mengatakan perkataan nyanyian ini kepada TUHAN pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari cengkeraman Saul.” Mengapa TUHAN melepaskan Daud dari tangan para musuh-Nya dan Saul? Bukan semata-mata, karena Daud itu dikasihi oleh TUHAN. Namun lebih dari itu, bahwa TUHAN sudah mengikat perjanjian dengan Daud (bdk. 2Sam. 7:1-17). Salah satu isi perjanjian itu adalah penyertaan dan perlindungan TUHAN atas kehidupan Daud serta keturunannya (bdk. 2 Sam. 7:9,11).

Daud mengucap syukur sebab telah melewati berbagai pergumulan dan kesulitan yang ditimbulkan para musuhnya, termasuk Saul. Semua itu merupakan karya dan pemeliharaan TUHAN atas hidupnya. Daud berkata: “Ya, TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan” (ay. 2-3). Daud ingin mengungkapkan bahwa hanya TUHAN lah satu-satunya tempat untuk berlindung; hanya TUHAN lah satu-satunya sumber keselamatan. Ini hanya bisa diungkapkan dan dinyatakan, apabila Daud benar-benar telah mengalami pertolongan TUHAN di dalam hidupnya.

Bagian ini mengajarkan kita bahwa TUHAN satu-satunya tempat untuk berlindung. TUHAN lah satu-satunya sumber keselamatan kita. Ketika kita menghadapi kesulitan demi kesulitan, pergumulan demi pergumulan, sangat mungkin nyawa kita terancam,—tapi TUHAN sanggup dan mampu melepaskan kita dari segala kesulitan dan pergumulan itu. TUHAN sudah menyediakan jalan keluar bagi segala kesulitan dan pergumulan hidup yang kita hadapi. Persoalannya adalah, apakah kita menaruh harap dan sungguh-sungguh bersandar hanya kepada-Nya?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s