Kompromi Karena Relasi

Bacaan hari ini: 2 Tawarikh 19:1-11
“Pertimbangkanlah apa yang kamu buat, karena bukanlah untuk manusia kamu memutuskan hukum, melainkan untuk TUHAN, yang ada beserta kamu, bila kamu memutuskan hukum.” (2 Tawarikh 19:6)

Kompromi adalah sebuah istilah yang menggambarkan kesediaan seseorang untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya bertolak belakang dengan keinginannya, namun dia tetap bersedia melakukannya karena alasan tertentu. Jika kompromi dilakukan atas dasar alasan yang baik dan tidak bertentangan dengan firman Tuhan, tentu hal ini bukan masalah. Namun berbeda ketika kita dihadapkan dengan kondisi di mana kita melakukan kompromi dengan alasan menjaga keamanan dan kenyamanan pribadi, tidak mau menanggung risiko lebih, sehingga kita berkompromi dengan dosa dan melanggar perintah Allah.

Inilah yang sedang dilakukan oleh Yosafat. Ketika seseorang sedang berkompromi dengan cara yang bertentangan dengan kehendak Allah, maka sebenarnya ia sedang menempatkan kepentingannya sendiri di atas kehendak Allah. Sebagai akibatnya, Allah mengizinkan Yosafat mengalami kekalahan. Yosafat menyetujui untuk berangkat perang bersama dengan Ahab, Raja Israel. Yosafat meminta kepada Ahab untuk memanggil nabi-nabi dan meminta petunjuk mereka. Namun ternyata yang dipanggil oleh Raja Ahab adalah nabi-nabi yang hanya mengatakan apa yang diinginkan oleh raja. Hanya satu nabi saja yang mengatakan kehendak Allah, namun Ahab, raja Israel lebih memilih mendengarkan para nabi yang mengatakan sesuatu sebagaimana yang dikehendaki oleh raja.

Sebagai makhluk sosial, kita pasti membutuhkan orang lain untuk membangun hubungan dan kerjasama. Namun, apakah itu membuat kita mengambil keputusan yang benar, sehingga tidak berpihak ataupun berat sebelah, dengan terus mengingat bahwa Tuhan ada bersama dengan kita saat membuat keputusan? Satu pertanyaan yang perlu kita tanyakan pada diri kita sendiri adalah, apakah yang akan kita putuskan saat kita menyadari bahwa Tuhan Yesus ada di hadapan kita? Bertekadlah bahwa mulai hari ini, dengan teguh kita memilih melakukan hal yang benar, sekalipun di tengah tantangan relasi yang dekat dengan orang lain, karena bukan teman yang menentukan masa depan kita, melainkan Tuhan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s