Ambisi yang Menuntun pada Kehancuran

Bacaan hari ini: 2 Tawarikh 21:1-20
“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” (Galatia 6:7)

“Ambisi!” Bicara tentang ambisi, kita mungkin berpikir, apakah memiliki ambisi itu adalah sesuatu yang salah? Memiliki ambisi bukanlah sesuatu hal yang salah, namun ketika ambisi itu kemudian diwujudkan dengan menggunakan cara-cara yang salah, akan menghasilkan dosa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “ambisi” berarti keinginan yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu, seperti pangkat atau kedudukan. Jadi, ambisi adalah kemauan untuk mencapai sukses. Ambisi penting, karena tanpa ambisi, seseorang seolah-olah tidak melakukan apa pun. Namun harus diingat, bahwa ambisi seharusnya memiliki batasan, yakni mempertimbangkan nilai-nilai kebenaran.

Pal Schmitt, Presiden Hungaria, memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden Hungaria, pada April 2012 lalu. Pengunduran diri tersebut dikarenakan gelar doktornya dicabut oleh Semmelweis University-Hungaria, setelah Schmitt terbukti melakukan penjiplakan dalam pembuatan disertasi; 210 dari 215 halaman disertasinya terbukti adalah hasil plagiarism (mengutip hasil tulisan orang lain tanpa izin); demikian menurut laporan dari BBC.

Dalam kitab 2 Tawarikh, Yoram, telah diangkat menjadi seorang raja Yehuda. Yoram memiliki beberapa saudara kandung, yaitu: Azarya, Yehiel, Zakharia, Azariahu, Mikhael, dan Sefaca. Pada saat Yoram menjadi raja, dia memutuskan untuk membunuh semua saudaranya. Ini dilakukannya untuk mengamankan kedudukannya sebagai raja, sehingga tidak ada lagi saingan. Pada akhirnya, Allah, melalui nabi Elia, menyampaikan pesan mengenai tulah (hukuman) yang akan diterima oleh rakyat, anak, istri serta segala harta yang dimiliki Yoram. Bahkan Allah mengizinkan kesehatannya terganggu dan dia mati dengan cara yang mengerikan.

Pada saat seseorang berusaha meraih segala keberhasilan dengan cara yang tidak benar, maka hal yang diraihnya justru akan mengakibatkan kejatuhannya sendiri. Kiranya hal ini menolong kita untuk selalu berhati-hati dalam mengatasi ambisi untuk berhasil.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s