Air Susu Dibalas dengan Air Tuba

Bacaan hari ini: 2 Tawarikh 24:1-27
“Yoyada mengambil dua orang Isteri bagi dia; dari mereka ia mendapat anak laki-laki dan anak perempuan … ia membunuh anak Yoyada itu.” (2 Tawarikh 24:3, 22b)

Banyak keberhasilan para pemimpin masa kini yang tidak lepas dari pengorbanan orang-orang tertentu; seperti orangtua, saudara, atau sahabat. Namun terkadang, mereka yang berhasil itu, melupakan perjuangan dan pengorbanan mereka. Bukan hanya itu, mereka sampai berani membalas kebaikan dengan kejahatan. Kisah serupa pun terjadi dalam kehidupan seorang Yoas, raja Yehuda. Keberhasilan kepemimpinan raja Yoas tidak terlepas dari peran seorang imam Yoyada. Imam Yoyadalah yang mencarikan isteri baginya, juga membatunya mengkoodinir jalannya pekerjaan membaharui rumah TUHAN. Singkat cerita, imam Yoyada ialah imam yang baik, yang selalu mendampingi raja melakukan tugasnya.

Namun demikian, apakah yang dilakukan Yoas terhadap imam Yoyada beserta keluarganya? Apakah ia berbuat baik? Apakah ia menolongnya? Sesungguhnya tidak. Alkitab memberi informasi yang akurat, yaitu bahwa setelah imam Yoyada wafat, Yoas menjadi raja yang sombong. Ia mencari pujian dan hormat dari manusia (ay. 17). Ia bahkan tidak menghormati TUHAN dengan membunuh anak imam Yoyada di pelataran Rumah TUHAN (ay. 21-22). Sungguh menyedihkan!

Ada sebuah peribahasa yang tak asing di telinga kita: “Air susu dibalas dengan air tuba,” yakni kebaikan dibalas dengan kejahatan; perbuatan baik dibalas dengan perbuatan jahat; itulah yang dilakukan raja Yoas. Raja Yoas membalas kebaikan imam Yoyada dengan membunuh Zakharia. Raja Yoas membalas kebaikan TUHAN dengan menyembah berhala. Akhir hidup raja Yoas adalah ia mati dibunuh oleh pegawai-pegawainya (ay. 25).

Kesuksesan kita tidak terlepas dari peran orang-orang yang pernah mengisi kehidupan kita dengan pengorbanan mereka. Baik itu orangtua, saudara, maupun sahabat kita. Bahkan terlebih dari semuanya itu adalah Tuhan Yesus. Apa kita sudah membalas segala kebaikan mereka dengan kebaikan? Ataukah sebaliknya? Apakah kita sudah membalas kebaikan Tuhan Yesus dengan hidup setia kepada-Nya, atau kita malah melupakan dan meninggalkan-Nya?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s