Reformasi Diri

Bacaan hari ini:2 Tawarikh 34:1-33
“Yosia menjauhkan segala dewa kekejian dari semua daerah orang Israel…” (2 Tawarikh 34:33)

Bagian firman ini memperlihatkan kepada kita, reformasi kehidupan beragama yang luar biasa dilakukan oleh raja Yosia. Di dalam dunia teologi ada perdebatan bahwa, reformasi Yosia gagal atau berhasil. Dikatakan gagal, karena reformasi tersebut tidak sanggup mengubah nasib bangsa Yehuda yang tetap berujung pada pembuangan di Babel. Dikata-kan berhasil, karena melihat tekad hati Yosia yang luar bisa, dan tindakan-tindakan besar yang dilakukan Yosia melampaui semua raja-raja lakukan, sebelumnya. Mari kita belajar prinsip-prinsip dasar reformasi Yosia.

(1) Reformasi dimulai sejak dini! Bila kita menyadari kesalahan/dosa di hadapan Tuhan, yang menghalangi relasi kita dengan-Nya, dan kita tidak mendapatkan berkat-Nya; maka kita harus cepat-cepat bertobat, jangan menundanya! Yosia melakukan sejak ia masih sangat muda belia, ia mulai sadar akan tugas tanggung jawabnya. Tidak hanya pada masa awal pemerintahannya, namun kita lihat keseluruhan pasal dan sepanjang hidupnya, Yosia membawa bangsanya untuk bertobat kepada Tuhan. Sudahkah kita sungguh menyesali dosa-dosa kita bertobat di hadapan Tuhan?

(2) Berani melawan tradisi yang salah! Apa pun yang merupakan peninggalan ayahnya, dan kebiasaan-kebiasaan buruk bangsa tersebut, yang suka menyembah berhala di bukit-bukit, ia tidaklah segan untuk menghancurkan semua itu dengan tuntas. Hari ini bila kita ingin ada api kebangunan, semua tradisi/kebiasaan duniawi yang ada di dalam gereja maupun hidup kita, harus kita tinggalkan!

(3) Firman Tuhan adalah paling penting! Petunjuk kehidupan kita sehari-hari bukanlah keuntungan, kekayaan, berkat, atau pekerjaan yang kita lakukan, melainkan prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan. Itulah yang menjadi pedoman kehidupan kita. Yosia dan para pejabatnya sangat bersyukur dan tunduk kepada kitab Taurat yang mereka temukan di bait Allah, sekalipun mungkin sudah ratusan tahun tidak ada yang membaca kitab Taurat tersebut. Jika demikian, sudahkah kita setia mempelajari firman Tuhan untuk pedoman hidup kita?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s