Kembali pada Taurat

Bacaan hari ini: Nehemia 8:3-18
“Ia membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari …” (Nehemia 8:4)

Kemenangan iman telah mereka capai, dan di tengah suasana euphoria seperti itu, mereka melakukan suatu hal yang baik dan benar. Mereka meminta Ezra untuk membacakan dan mengajarkan kitab Taurat pada mereka. Bukan hanya sebagai kelengkapan seremonial saja, yaitu sebagai tradisi umat pilihan Allah, sehingga setiap kali ada pengalaman pertolongan Allah mereka mengadakan semacam upacara syukuran. BUKAN! Mereka melakukannya sungguh-sungguh, sebab saat Taurat dibacakan, mereka semua mendengarkan dengan serius (ay. 4).

Ezra berdiri di sebuah mimbar membacakan bagian-bagian dari kitab Taurat, dan dengan bantuan kelompok imam, bagian Taurat itu dijelaskan kepada umat. Ketika semua itu berlangsung, muncul kepekaan rohani, kesadaran yang dalam akan dosa kolektif umat membuat mereka menangis (ay. 10). Lebih dari itu, melalui perenungan kembali akan Taurat, mereka juga diingatkan untuk merayakan hari raya Pondok Daun yang sudah dilupakan sejak zaman Yosua. Hari raya Pondok Daun adalah hari yang mengingatkan mereka bagaimana nenek moyang mereka tinggal di pondok-pondok daun ketika Allah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir (Im. 23:33-43).

Semangat kembali kepada Taurat menjadi semacam pola dasar dari kebangunan rohani di dalam sejarah umat Allah di masa lampau. Mereka mengalami situasi kehidupan yang sulit, terhimpit, lalu Allah menyatakan pertolongan-Nya. Pengalaman seperti itu sudah pasti membuat mereka merasa senang, bahkan bersyukur. Tapi itu tidaklah cukup! Rasa syukur karena pertolongan Tuhan bisa hilang secepat ketika datang. Rasa syukur akan pertolongan Tuhan harus disertai dengan semangat kembali kepada firman-Nya; kembali kepada kebenaran-Nya, janji-Nya, sifat-sifat-Nya, kesetiaan-Nya. Kembali kepada Dia. Kembali ke dalam relasi anugerah dengan Dia. Hanya ketika kita kembali kepada Tuhan dan memulihkan relasi kita dengan-Nya, saat itulah kita mengalami pembaruan hidup. Itulah kebangunan rohani yang sejati. Bagaimana dengan Anda?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s