Tetap Setia dan Berharap kepada Allah

Bacaan hari ini: Ayub 16
“Sekalipun aku dicemoohkan oleh sahabat-sahabatku, namun ke arah Allah mataku menengadah sambil menangis, supaya Ia memutuskan perkara antara manusia dengan Allah, dan antara manusia dengan sesamanya.” (Ayub 16:20-21)

Ketika seseorang bersahabat dengan Anda, maka caranya berbicara dengan Anda akan berbeda. Anda akan merasa aman dan nyaman bersamanya. Itulah yang seharusnya dilakukan oleh para sahabat Ayub, saat Ayub mengalami kesusahan dan penderitaan. Namun sayang, justru kehadiran mereka membuat Ayub merasa tidak aman dan nyaman.

Tak ada penghiburan (ay. 1-8). Itulah yang dirasakan Ayub ketika para sahabatnya datang kepadanya. Bagi Ayub, ketiga sahabatnya ini benar-benar “penghibur-penghibur yang menyedihkan” karena kehadiran mereka hanya menambah rasa sakit. Karena kata-kata mereka bukan memberi kesejukan hati, tetapi sebaliknya telah membuat Ayub merasa tidak aman dan nyaman. Ayub pun meresponi para sahabatnya dengan kata-kata yang cukup keras: “Hal seperti itu telah acap kali kudengar. Penghibur sialan kamu semua!” (ay. 2). Kata-kata mereka melelahkannya dan membuatnya mengerut, seperti ketika angin gurun bertiup. Jika keadaan itu dibalik, Ayub akan mengatakan kata-kata kekuatan dan membantu mereka di dalam penderitaan mereka (ay. 4).

Selain itu, Ayub pun merasa bahwa tidak ada pembelaan bagi dirinya (ay. 9-22). Mengapa? Karena Ayub menyadari bahwa semua yang terjadi dalam hidupnya sesungguhnya datangnya dari Allah. Semuanya itu adalah apa yang Allah lakukan kepadanya. Allah adalah lawan terhadap siapa Ayub tidak dapat membela dirinya. Bahkan, Allah pun mengijinkan orang-orang di dalam hidup Ayub untuk mengangakan mulut melawannya, untuk menghujaninya dengan anak panah, dan mencemoohkannya.

Walaupun demikian Ayub tidak menjauhi—,apalagi mengutuki Allah. Sebagaimana pernah dikatakan oleh istrinya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” (ps. 2:9). Justru dalam kondisi yang demikian ia mengarahkan matanya kepada Allah. Ayub berkata, “Sekalipun aku dicemoohkan oleh sahabat-sahabatku, namun ke arah Allah mataku menengadah sambil menangis” (ay. 20). Bagaimana dengan Anda?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s