Menjadi Saudara Dalam Kesukaran

Bacaan hari ini: Ayub 32-33
“Tetapi setelah dilihatnya, bahwa mulut ketiga orang itu tidak lagi memberi sanggahan, maka marahlah ia.” (Ayub 32:5)

Ketika mengalami kesusahan, apa yang paling kita harapkan? Tentu saja perhatian dan pengertian orang lain. Kadang, kita hanya membutuhkan saudara/sahabat yang mau duduk diam bersama kita dan mendengarkan curahan hati kita. Kebanyakan orang yang sedang berada dalam pergumulan, tidak membutuhkan banyak nasihat, apalagi teguran. Mereka membutuhkan orang yang mau menangis bersamanya.

Ketika sedang berduka, banyak orang datang memberikan nasihat, teguran bahkan kata-kata “penghiburan” yang sebenarnya justru menunjukkan bahwa mereka tidak mengerti perasaan kita, mereka hanya pintar bicara saja. Itulah yang terjadi dalam kehidupan Ayub. Dalam kesakitan, penderitaan dan ketidakmengertian Ayub akan kondisi yang dialami dirinya, sahabat-sahabatnya, yang diharapkan dapat memberikan penghiburan dan kekuatan, justru membebani dirinya dengan teguran dan nasihat. Di pasal 32-33 ini, kita bisa melihat bagaimana sahabatnya yang bernama Elihu, yang awalnya hanya diam, sementara ketiga sahabat Ayub yang lain berkomentar, pada akhirnya tidak dapat menahan dirinya dan menegur Ayub.

Kata-kata yang dilontarkan Elihu memang baik. Nasihat dan teguran Elihu memang jauh lebih bijaksana dibandingkan sahabat-sahabat Ayub lainnya, yang notabene lebih senior, tetapi semua itu sudah dimengerti oleh Ayub, dan semuanya itu justru tidak membantu Ayub keluar dari penderi-taannya. Elihu lupa bahwa yang dibutuhkan Ayub saat itu bukanlah teguran dan nasihat, tetapi pengertian dan pendampingan sahabat-sahabatnya. Memang tidak mudah menjadi seorang saudara dalam kesukaran. Kita seringkali lebih suka menghakimi orang lain. Kita suka menasihati dan merasa diri tahu segalanya. Namun Firman Tuhan hari ini mengajar kita untuk menjadi seorang saudara, bukan hakim atau penasihat, sekalipun mungkin kita tahu banyak hal. Maukah kita menyediakan telinga yang mau mendengar, hati yang mau mengerti, sehingga saudara kita yang sedang berduka, bisa mengalami kasih Tuhan?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s