Allah Itu Adil

Bacaan hari ini: Ayub 34
“Sungguh, Allah tidak berlaku curang, Yang Mahakuasa tidak membengkokkan keadilaan.” (Ayub 34:12)

Pada bulan Maret lalu, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan kisah seorang nenek bernama Asyani yang dituduh mencuri, setelah 7 batang kayu jati miliknya dibawa ke rumah Cipto, tukang kayu di Desa/Kecamatan Jatibanteng. Rencananya, kayu jati itu akan dijadikan kursi. Namun, sebelum kursi dibuat, petugas mengamankan 38 sirap kayu jati tersebut lantaran dianggap tidak dilengkapi dengan Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH). Nenek ini mengatakan bahwa kayu itu bukan hasil curian melainkan miliknya sendiri. Kemudian, nenek Asyani ditahan tiga bulan karena dituduh mencuri kayu jati di petak milik PT Perhutani Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Kasus nenek Asyani menjadi potret buram penegakan hukum, dimana koruptor yang menghabiskan uang rakyat miliaran rupiah mendapatkan remisi.

Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan adil? Makna adil menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia antara lain adalah tidak berat sebelah, tidak sewenang-wenang dan berpegang pada kebenaran. Namun yang cenderung terjadi adalah bahwa keadilan seringkali menjadi relatif, tergantung kepada siapa hal itu dikenakan. Inilah keadilan yang seringkali dijalankan oleh manusia. Namun Elihu, teman Ayub ingin menyampaikan bahwa Allah itu berbeda dengan manusia, dan Ia tidak pernah berbuat curang. Segala keputusan-Nya pasti adil dan benar. Elihu ingin menjawab pertanyaan dan keberatan Ayub kepada Tuhan mengenai kesulitan yang dialaminya.

Elihu menyalahkan Ayub dan meminta Ayub untuk bertobat. Dalam pemahaman Elihu, Allah pastilah adil, sehingga jika terjadi sesuatu dalam kehidupan Ayub yang membuatnya sengsara maka hal itu pasti disebabkan karena kesalahan yang diperbuat oleh Ayub sendiri. Namun, ada bagian yang mungkin terluput dari pemahaman Elihu adalah, bahwa keadilan Allah tidak hanya berarti bahwa Allah memberikan kesulitan sebagai hukuman orang yang bersalah, namun juga kadangkala Allah mengijinkan kesulitan menimpa seseorang sebagai alat untuk memurnikan imannya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s