Keintiman dengan Allah

Bacaan hari ini: Mazmur 27:4, 8
“Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN …” (Mazmur 27:4)

Salah satu esensi kekristenan yang terhilang dalam ajaran dan juga dalam kehidupan bergereja hari ini adalah relasi hidup yang intim dengan Allah. Kondisi inilah yang menyebabkan pertumbuhan iman jemaat menjadi dangkal, dan kehidupan gereja menjadi kering. Komentar ahli mengatakan bahwa gereja masa kini mencapai pengembangan yang paling luas, tapi juga paling dangkal. Kedangkalan tersebut jelas berkaitan dengan hilangnya “core value” atau nilai utama dari kehidupan gereja.

Secara teori kita mengerti bahwa Hukum Yang Terutama dalam ajaran seluruh Alkitab adalah apa yang tertera dalam Ulangan 6:5 dan Matius 22:37-40, yaitu hidup di dalam relasi kasih dengan Allah dan sesama. Relasi manusia berdosa dengan Allah yang mahasuci dapat terjadi atau terjalin kembali, semata-mata hanya karena anugerah Allah. Karena kasih, Allah datang mencari dan menebus manusia berdosa. Tujuan dari karya keselamatan yang dikerjakan lewat pengorbanan Kristus di atas salib ini bukan hanya menghindarkan orang dari neraka saja, tetapi supaya orang berdosa dapat kembali berelasi dengan Allah di dalam kasih. Ini adalah relasi kasih. Relasi kasih seperti ini tidak pernah terjadi tanpa keintiman.

Alkitab tanpa ragu menyatakan bahwa Daud adalah seorang yang hidupnya berkenan kepada Allah, bukan karena dia adalah manusia saleh yang sempurna. Tapi Daud adalah seorang manusia biasa yang bisa berdosa, namun mempunyai kerinduan besar untuk menikmati keintiman dengan Allah. Keinginan dekat dengan Tuhan menjadi tujuan utama hidupnya, menjadi prioritas hidupnya, menjadi fokus utama dan terakhir dalam hidupnya. Dia rindu untuk mengalami dan menikmati relasi dengan Tuhan seumur hidupnya. Satu hal itu – keintiman dengan Allah – itu saja yang dia minta kepada Allah, melebihi yang lainnya. Bagi Daud, tidak ada yang lebih bernilai daripada relasi kasih yang intim dengan Allah yang tidak pernah berubah kasih setia-Nya. Inilah esensi kekristenan yang sudah hilang! Masih rindukah engkau untuk mengalaminya kembali?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s