Berseru kepada Allah

Bacaan hari ini: Mazmur 88
“Ya TUHAN … menyelamatkan aku, siang hari aku berseru-seru … malam aku menghadap Engkau … sendengkanlah telinga-Mu kepada teriakku.” (Mazmur 88:2-3)

Kita sering kali menyalahkan Allah atas hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup. Kita menyalahkan-Nya atas penyakit yang kita derita, problem keuangan, masalah pekerjaan yang kita hadapi dan berbagai macam persoalan lainnya. Kita sering kali bertanya, “Mengapa Tuhan mengizinkan hal-hal tersebut menimpa diri kita?”

Protes dan pertanyaan yang sama juga dilontarkan pemazmur dalam Mazmur 88. Begitu banyak hal buruk menimpanya, hidupnya mendekati kematian (ay. 4-5), tertekan secara psikologis (ay. 4, 8), ditinggalkan oleh orang-orang terdekat (ay. 9, 19), mengalami kefrustrasian, serta kesesakan dalam menghadapi semua hal tersebut (ay. 15-18). Beda dengan mazmur ratapan pada umumnya, mazmur ini tidak ditutup dengan pernyataan yang positif. Terlebih, mazmur ini ditutup dengan keadaan pemazmur yang belum mendapat pertolongan dari Allah, bahkan hatinya dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan kepada Tuhan. Namun hal yang dapat kita pelajari melalui mazmur ini adalah bagaimana ketekunan pemazmur untuk mencari Tuhan. Sekalipun ia memiliki banyak pergumulan dan pertanyaan iman, ia tidak jemu-jemu mencari Allah siang dan malam, dan ia tetap berharap hanya kepada-Nya (ay. 2-3, 10, 14).

Acap kali orang Kristen memiliki respon berbeda dengan pemazmur dalam menghadapi persoalan hidup yang datang bertubi-tubi. Kebanyakan orang Kristen yang mengalami kesulitan hidup, merasa kecewa kemudian meninggalkan Tuhan. Mereka berhenti melayani, tidak lagi ke gereja, undur dalam persekutuan, berhenti membaca Alkitab dan enggan datang kepada Tuhan di dalam doa. Respons seperti ini tidaklah tepat. Kekecewaan dan ketidakmengertian pasti kita alami dalam menjalani kehidupan kita sebagai manusia yang terbatas. Tetapi dalam keadaan demikian, kita tidak boleh pergi dan meninggalkan Tuhan. Justru dalam masa-masa sukar tersebut, kita harus semakin melekat kepada Allah. Seperti pemazmur, kita seharusnya tetap setia dan terus berharap akan uluran tangan-Nya untuk menolong kita sesuai waktu-Nya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s