Pujian Rohani

Bacaan hari ini: Mazmur 105:1-45
“Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya….” (Mazmur 105:2)

Pujian orang Kristen beda dengan pujian orang dunia. Perbedaannya bukan hanya bersifat filosofis, tapi juga bersifat rohani. Pujian orang dunia semata-mata untuk mencari hiburan/pemuasan diri, bersifat komersial, selain kepentingan seni. Bahasa musik dan isi pengajarannya bersifat sementara dan sarat duniawi. Ada sebuah lagu berbunyi: “Dulu aku kau puja, dulu aku kau sayang. Kini roda telah berputar, kini aku kau hina, kini aku kau buang. Manakah janji manismu?” Jelaslah bahwa nyanyian ini dilatar-belakangi kekecewaan hati, semakin kita dengar, semakin frustasi.

(1) Pujian orang Kristen berpusat pada Allah semata-mata.

Pemazmur berseru, “Bernyanyilah bagi-Nya” atau “Bermazmurlah bagi-Nya.” Kedua ungkapan ini mengandung makna yang sama, yaitu objek pujian adalah Tuhan sendiri. Hanya Dia yang pantas diagungkan dan dipuja semua umat manusia, termasuk cakrawala dan pepohonan serta segala makhluk hidup yang diciptakan-Nya (Mzm. 148). Pemazmur telah menunjukkan sikap yang benar dalam memuji Dia, “Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja, dan aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya” (Mzm. 145:1).

(2) Pujian orang Kristen bersifat rohani.

Inilah perbedaan musik rohani dengan musik duniawi. Pemazmur menceritakan segala perbuatan dan karya Allah yang bersifat rohani dan kekal, yaitu keselamatan yang tidak ternilai. Semua yang hidup dan apa yang kita miliki adalah sia-sia jika tidak memiliki keselamatan yang dikerjakan Allah atas hidup kita. Itu sebabnya pemazmur berkali-kali memuji nama Tuhan dan terus mengabarkan berita keselamatan-Nya dari hari ke hari.

(3) Pujian orang Kristen bersifat kekal.

Pujian orang Kristen kepada Tuhan tidak akan pernah berhenti. Karena Allah itu hidup dan kekal adanya. Kekuatan dan kuasa-Nya menjadi sandaran orang-orang percaya, Dialah Tuhan, Allah kita yang tidak berubah. Pujian orang Kristen tidak terbatas di bumi, tapi juga di sorga. Karena itu, jadikan pujian rohani menjadi bagian dalam hidup kita, kelak di sorga kita tetap memuji (Why. 19:1).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s