Umat yang Menolak Berkat

Bacaan hari ini: Yeremia 13:1-11
“Sebab seperti ikat pinggang melekat pada pinggang seseorang, demikianlah tadinya segenap kaum Israel dan segenap kaum Yehuda …” (Yeremia 13:11)

Yeremia tahu bahwa dia dipanggil Allah untuk menjadi penyampai berita penghukuman atas umat Allah, atas Yerusalem. Itu membuat dia bergumul berat di dalam batinnya. Di pasal sebelumnya dia bahkan mengajukan pertanyaan terhadap keadilan Allah; kalau umat-Nya dihukum, lalu mengapa orang fasik dibiarkan berjaya? Dia tahu, dia tidak bisa berbantah dengan Allah, tapi pikiran dan hati kecilnya sulit menerima.

TUHAN tahu perasaan galau nabinya, dan Dia menyuruh Yeremia membeli sebuah sabuk terbuat dari kain lenan; ini bukanlah sabuk biasa buatan sendiri, tetapi adalah sabuk yang dibeli dengan harga mahal. Tapi ikat pinggang ini tidak dipakai lama, karena TUHAN segera menyuruh Yeremia membawanya ke tepi sungai Efrat dan menyembunyikannya di antara bebatuan di sana. Peragaan secara hidup ini bertujuan untuk memaparkan kepada Yeremia suatu gambaran yang nyata tentang kondisi kehidupan umat Allah.

Israel adalah budak yang dibebaskan oleh Allah, ditebus oleh TUHAN untuk menjadi umat kesayangan-Nya. Seandainya mereka tetap terlekat dengan TUHAN, hal mana menggambarkan suatu relasi hidup yang dekat, yang intim, maka yang akan mereka alami adalah sepenuhnya berkat dan kebaikan. Di dalam Taurat Musa telah disampaikan pilihan hidup umat; berkat atau kutuk (Ul. 28). Taat berarti hidup di jalan berkat; tidak taat berarti hidup jauh dari jalan berkat. Ini adalah pilihan hidup mereka sendiri; mau mengingat kebaikan TUHAN yang tidak terhingga, yang mereka sudah alami selama ini, menyukuri semua itu dan terus menikmati berkat lewat ketaatan, atau memilih untuk menganggep remeh anugerah dan mengabaikan ketetapan Allah, dan dengan demikian mendatangkan kecelakaan atas diri sendiri.

Allah dengan kasih-Nya menebus mereka, ingin menjadikan mereka umat ternama, terpuji dan terhormat. Yang tadinya budak, menjadi kerajaan imam. Yang tadinya hina, menjadi terhormat. Namun mereka menolak, dan lebih memilih kutuk daripada berkat. Bagaimana dengan kita?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s