Hukum yang Tidak Pernah Berubah

Bacaan hari ini: Yeremia 17:5-8
“Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri …” (Yeremia 17:5)

Lewat Musa, Allah telah menyatakan kepada umat-Nya satu patokan hidup yang sederhana dan mudah dipahami; kepada mereka telah diperhadapkan 2 macam pilihan, yaitu berkat atau kutuk (Ul. 28). Ini sama sekali bukan berarti bahwa Allah bersifat penuntut kepada manusia, dan ketika keinginan-Nya tidak dituruti maka Dia menjadi tersinggung dan marah. Tiba-tiba berubah dari Allah yang baik, yang memberkati manusia, menjadi Allah yang jahat, yang mengutuki manusia karena tidak mau taat. Tidak demikian! Tapi ini ialah logika yang sederhana dan mudah dipahami, yaitu bahwa Allah adalah sumber kebaikan dan berkat, hidup dekat dengan Dia berarti hidup dekat dengan sumber berkat. Sebaliknya, menjauhi Dia berarti menjauhi berkat dan mendekatkan diri kepada segala kecelakaan.

Umat memilih untuk tidak taat dan hidup menuruti keinginan kedagingannya sendiri. Mereka telah membangkang dan mengkhianati Allah yang telah menebus mereka dan melimpahi mereka dengan berbagai kebajikan. Mereka menolak jalan Allah dan memilih jalan penderitaan. Di dalam kondisi hidup yang susah, Allah memperingatkan mereka: “Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan. Tetapi mereka berkata: Kami tidak mau menempuhnya!” (Yer. 6:16) Dengan kekerasan hati mereka tetap menolak seruan TUHAN untuk kembali kepada-Nya.

Maka sekarang, penghukuman akan ditimpakan kepada mereka dengan segera, tanpa mereka dapat menghindar lagi. Dan firman yang disampaikan ini menjadi hakim atas mereka. Hukum Allah tidak berubah, dan mereka tidak punya alasan untuk mengeluh atas semua penderitaan yang mereka sudah dan akan alami. Yang mengabaikan TUHAN dan menuruti kemauannya sendiri sudah menempatkan dirinya di jalan kutuk; sebaliknya orang yang dekat dengan TUHAN, mengandalkan Dia, hidup di jalan-Nya, berarti hidup di dalam kelimpahan berkat. Di jalan mana kita sedang berada sekarang?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s