Tanah Liat di Tangan Sang Penjunan

Bacaan hari ini: Yeremia 18:1-6
“Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu.” (Yeremia 18:2)

Allah telah menyampaikan ketetapan-Nya bagi manusia hidup dalam berkat, tapi umat-Nya sendiri tidak mau menaatinya. Dari hati manusia yang terdalam, pencemaran dosa bekerja dan merusak kehidupan (Yer. 17:9), memunculkan kecenderungan untuk menolak Allah dan memilih jalan yang mendatangkan penderitaan. Kalau demikian kenyataannya, kalau umat Israel yang sudah pernah mengalami karya kuasa-Nya saja masih bisa gagal seperti itu, lalu masih adakah harapan bahwa manusia bisa berubah menjadi lebih baik?

Yeremia bergumul menghadapi kenyataan seperti itu. Dia dipanggil untuk menyampaikan nubuat penghukuman, ini sama sekali bukan tugas yang menyenangkan baginya. Dia tidak menikmati menyampaikan berita seperti itu kepada saudara sebangsanya, tetapi dia juga tidak bisa melawan gerakan Allah dalam hatinya. Jika keadaan umat sudah sedemikian buruk, masihkah ada harapan melihat umat berubah? Jawabannya; ada! TUHAN menyuruh Yeremia pergi ke tempat tukang periuk untuk belajar sesuatu.

Di tempat tukang periuk Yeremia melihat, bagaimana seonggok tanah liat yang tidak bernilai diubah menjadi bejana yang berguna. Tanah liat yang kotor itu diambil, kemudian dibentuk. Ada kalanya proses pembentukan itu mengalami hambatan, sehingga si tukang periuk akan mengulang proses tersebut. Dia tidak akan berusaha memperbaikinya secara tambal sulam. Tidak! Bejana yang rusak tersebut akan dihancurkan total menjadi seonggok tanah liat, dan dari titik itu dia akan mengulang kembali proses pembentukannya.

Untuk membentuk kembali kehidupan umat yang sudah rusak, Allah akan bekerja seperti tukang periuk. Dia akan hancurkan untuk membentuk kembali. Akan ada rasa sakit saat ego manusia dihancurkan oleh kuasa kasih-Nya, akan ada pengalaman-pengalaman rohani menyakitkan, tetapi membawa orang kepada pertobatan sejati. Merupakan suatu anugerah jika Sang Penjunan tidak membuang tanah liat itu, tapi membentuknya kembali. Sudahkah kita mengalami dihancurkan dan dibentuk kembali oleh Allah?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s