Disiplin Tuhan (1)

Bacaan hari ini: Yeremia 46:1-6, 25-26
“… Sesungguhnya, Aku mendatangkan hukuman atas dewa Amon dari Tebe, atas Firaun beserta Mesir, dewa-dewanya dan raja-rajanya, yakni atas Firaun beserta orang-orang yang percaya kepadanya.” (Yeremia 46:25)

Salah satu bentuk kasih kepada anak adalah dengan memberlakukan disiplin hidup. Walaupun berat dan terkadang terlihat “kejam” di mata anak, tindakan ini diperlukan demi anak tersebut memiliki suatu karakter dan kehidupan yang baik. Demikian pula yang terjadi pada bangsa Israel. Tuhan memberikan disiplin kepada bangsa Israel justru karena Ia mencintainya.

Pada waktu itu, di daerah Palestina (Israel dan sekitarnya) terjadi pergolakan politik yang hebat. Ini disebabkan karena kerajaan Asyur yang menguasai Palestina pada waktu itu sedang mengalami kehancuran dari dalam yang menyebabkan daerah-daerah jajahan mereka memberontak. Tak terkecuali Israel, sebagai salah satu daerah jajahan mereka. Di tengah-tengah kondisi seperti ini, Israel mulai tergoda untuk membentuk koalisi dengan raja-raja sekitar (Mesir, Filistin, Moab, Amon). Mereka hendak memberontak dan melepaskan diri terhadap Asyur. Namun masalahnya adalah, itu berarti Israel bekerja sama dengan bangsa kafir. Allah YHWH dicampuradukkan dengan dewa-dewa yang lain.

Nabi Yeremia datang kepada Israel untuk mengingatkan Israel agar mereka tidak bekerja sama dengan mereka. Ia memberitahukan bahwa bangsa-bangsa yang kafir itu akan menerima penghukuman dari Tuhan (ay. 3-6). Ia lebih berkuasa dari dewa-dewa mereka sehingga hukuman pasti terjadi (ay. 25). Jika Israel bergabung dengan mereka, Israel akan mengalami hukuman yang sama yang akan diterima oleh bangsa-bangsa tersebut. Israel akan diserahkan ke dalam tangan raja Babel. Sebaliknya, jika Israel menyadari ia adalah anak Allah, maka ia diminta untuk bersandar kepada Allah dan Allah akan menyelamatkannya.

Peringatan yang diberikan kepada Israel melalui nabi Yeremia pada waktu yang lampau berlaku pula untuk kita semua pada masa kini. Jika kita mengaku adalah anak Allah, seharusnya kita hidup sebagai anak Allah: berserah, bersandar, dan hidup menaati Firman-Nya. Sudahkah kita hidup demikian? Ataukah kita masih hidup berkoalisi dengan dunia?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s