Kompromi yang Membawa Sengsara

Bacaan hari ini: Yehezkiel 17
“… Aku, TUHAN, merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu kering dan membuat pohon yang layu kering bertaruk kembali …” (Yehezkiel 17:24)

Yehezkiel mengungkapkan berita Allah melalui perumpamaan. Frasa “pucuknya yang paling ujung” mengacu kepada Raja Yoyakhin dari Yehuda, yang diangkut dalam pembuangan ke Babel. (bdk. 2Raj. 24:11-16). Dalam Yehezkiel 17:7, frasa “burung rajawali besar yang lain” mengacu kepada Mesir. Istilah “rajawali” dalam Yehezkiel 17:12 mengacu kepada raja Nebukadnezar dari Babel, sedangkan kata “Libanon” mengacu kepada Yerusalem.

Zedekia dinobatkan oleh Nebukadnezar ketika saudara sepupunya, Yoyakhin, diturunkan dari takhta dan dibawa ke Babel (2Raj. 24:17). Baik Yeremia maupun Yehezkiel, memandang Yoyakhin sebagai yang terakhir dari raja Yehuda yang sah. Nama Zedekia yang semula Matanya, diubah oleh Nebukadnezar, menjadi Zedekia sebagai tanda raja bawahan.

Namun kemudian, Zedekia menggabungkan diri pada sebuah koalisi yang memusuhi Babel dan memberontak melawan Nebukadnezar, yang mengundang serbuan atas Yehuda dan Yerusalem oleh orang Kasdim pada Desember 589 SM. Akibatnya, Yerusalem dihancurkan raja Babel. Nampaknya sudah sejak awal pemerintahannya Zedekia tidak sabar ada di bawah kuk Babel. Yeremia memperingatkannya supaya tidak terlibat dalam koalisi negara-negara jiran untuk melawan sang adikuasa.

Dalam bagian ini Tuhan sedang membuat perhitungan dengan Yehuda atas ketidaksetiaannya dalam proses yang Tuhan izinkan terjadi. Dalam penderitaan di bawah kekuasaan Babel, ada sebuah tindakan yang salah yang dilakukan Raja Zedekia, yaitu membuat perjanjian kerjasama dengan bangsa Mesir. Sesuatu yang seharusnya tidak dilakukannya, apalagi bersumpah untuk setia kepada Mesir. Bagaimana dengan kita?

Kadang demi mendapat kemudahan, kita tergoda untuk berkompromi dengan sesuatu yang Tuhan tidak sukai. Memang Allah mengizinkan kesulitan, namun hal itu bukan berarti Allah membenci kita dan kemudian membuat kita mencari pertolongan di tempat yang salah. Mari kita belajar untuk menantikan waktu Tuhan yang tepat untuk menolong kita.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s