Tuntutan Tuhan

Bacaan hari ini: Mikha 6
“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan daripadamu; selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8)

Pasal 6 ini memuat pernyataan kekecewaan Tuhan atas umat-Nya. Tuhan mengingatkan mereka kembali atas karya penyelamatan yang Ia lakukan bagi mereka dan menyatakan keinginan-Nya atas mereka. Inti dari pesan Tuhan yang disampaikan oleh nabi Mikha ini adalah bahwa yang diinginkan Tuhan bukanlah persembahan korban bakaran, melainkan hati yang taat; berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah (ay. 8).

Saudara yang dikasihi Tuhan, dalam kehidupan rohani kita, sering kali kita mengira bahwa asalkan kita rajin ke gereja, giat melayani, memberikan banyak persembahan, berarti sudah menyenangkan hati Tuhan. Padahal, bukan itu yang diinginkan Tuhan. Firman Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa yang dituntut adalah sikap yang berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup rendah hati. Bukankah kita sering melihat ada orang yang sangat aktif melayani di gereja, sering kali memberi persembahan tetapi di dalam kehidupan sehari-hari, ia memperlakukan orang lain dengan tidak adil? Bertindak semena-mena terhadap karyawan atau pembantu yang bekerja kepadanya, berlaku curang dalam bisnis yang dijalankan, bahkan mendiskriminasi sesama berdasarkan status sosial, ras, dan sebagainya.

Bagaimana seorang bisa memperkenankan hati Tuhan bila dalam kehidupan sehari-hari, ia jauh dari sikap mempraktekkan kasih? Bukankah firman Tuhan dalam 1 Yohanes 4:20 dengan jelas mengatakan kepada kita semua, “Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta.”

Selanjutnya sikap yang dituntut Tuhan adalah rendah hati. Setelah sekian lama menjadi orang Kristen, aktivis di gereja, adakah sikap rendah hati itu masih kita miliki? Sikap rendah hati ditunjukkan dengan cara: mau menerima hasil keputusan bersama, sekalipun itu tidak sesuai keinginan kita; mau menerima masukan, sekalipun menyinggung ego kita; berbicara dengan sopan, sekalipun mungkin emosi sedang berkobar, mau mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada orang lain.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s