Belas Kasihan vs Persembahan

Bacaan hari ini: Matius 9:1-17
“Yang kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Matius 9:13)

Mengerti isi hati dan memiliki perspektif Tuhan adalah panggilan hidup, dari kita yang mengaku diri sebagai pengikut Tuhan Yesus. Sebagai orang-orang yang telah menerima belas kasihan dan anugerah keselamatan dari-Nya, kita sering lupa diri. Ketika berhadapan dengan mereka yang masih berada di luar pintu anugerah keselamatan, kita sering memandang sebelah mata dan menghakimi mereka. Kita lupa bahwa dulu kita pun termasuk bagian dari mereka (orang-orang berdosa).

Kondisi yang sama kita temukan dalam kisah yang kita baca hari ini. Ketika orang Farisi melihat Yesus bergaul dengan Matius, si pemungut cukai, maka mereka pun mulai mencibir. Mereka lupa, bahwa Tuhan pun telah beranugerah kepada nenek moyang mereka sehingga mereka boleh menjadi umat pilihan Allah. Mereka menjadi umat-Nya, karena anugerah Tuhan, bukan karena perbuatan mereka.

Tuhan Yesus menegaskan kepada mereka bahwa kedatangan-Nya bukan untuk orang yang merasa diri sudah benar dan tidak membutuhkan pengampunan, melainkan Ia datang untuk mereka yang hancur hatinya dan membutuhkan keselamatan. Perkataan Tuhan Yesus ini seharusnya mengingatkan kita bahwa sebagaimana Tuhan telah berbelas kasihan kepada kita, maka kita juga harus berbelas kasihan kepada orang lain.

Banyak orang Kristen yang merasa jika dirinya telah banyak memberi persembahan, rajin beribadah, itu sudah cukup menunjukkan bahwa mereka adalah pengikut Kristus, terlepas dari sikap mereka terhadap sesamanya. Tentu saja itu tidak benar. Jika memang benar kita adalah pengikut Kristus, maka seharusnya kita meneladani sikap Kristus, berpikir seperti Kristus, dan berkata-kata seperti Kristus. Yang Tuhan inginkan adalah belas kasihan. Bagaimana dengan kita hari ini? Sudahkah kita menaruh belas kasihan kepada orang lain? Khususnya kepada mereka yang bersalah kepada kita, dan mereka yang masih belum menerima anugerah keselamatan atau hidup dalam dosa? Mungkin itu famili, teman dekat atau anak-anak kita?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s