Menjadi Murid Sejati

Bacaan hari ini: Matius 16:21-28

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24)

Apa keunikan hidup Kristen dibanding dengan agama-agama lain? Kalau kita menjawab: “Hidup saya berubah menjadi lebih baik sejak saya percaya Tuhan Yesus… Saya merasakan ada damai dan sukacita… Dulu saya egois, tidak punya hati untuk menolong orang lain tapi sekarang saya suka berbuat kebaikan… Dulu saya tidak tertarik untuk melayani, tetapi sekarang saya suka melayani… Dulu saya pelit tapi sekarang saya suka memberi persembahan…,” maka pengikut agama manapun bisa juga mengalami hal yang sama; bahkan seorang atheispun bisa punya pengalaman yang sama.

Lalu di mana keunikan hidup Kristen dibandingkan dengan mereka yang tidak percaya kepada Kristus?

Pertama, transformasi hidup secara radikal dan total.

Agama adalah semacam jubah atau baju luar yang berusaha memoles supaya orang menjadi lebih baik, tapi tidak pernah sanggup menyentuh dan merubah manusia dari esensinya yang paling dalam. Hidup Kristen yang sesungguhnya, justru dimulai dengan kesadaran bahwa saya tidak mempunyai kesanggupan itu, karena di dalam diri saya, ada ke-aku-an yang begitu lemah tapi sekaligus begitu dominan menguasai seluruh hidup saya. Dan ke-aku-an itulah yang pertama kali harus diselesaikan secara tuntas. Penyangkalan diri, menjadi langkah awal dari suatu perjalanan rohani yang sejati. Tanpa penyangkalan diri, tidak ada pertumbuhan rohani.

Kedua, bukan menjalani ritual agama tetapi menjadi murid Kristus.

Kekristenan bukan berbicara tentang bagaimana menjalani berbagai aktifitas keagamaan, tetapi tentang bagaimana seorang percaya menjadi pengikut Tuhan, menjadi murid-Nya. Ini berbicara proses pertumbuhan rohani yang dinamis karena kita diajak untuk mengikuti jejak kehidupan Tuhan kita sendiri. Di dalam proses inilah kita dibentuk, bukan untuk sekadar menjadi lebih baik, tetapi supaya kita semakin menyerupai Dia. Maka Tuhan menyampaikan suatu syarat yang paling mendasar; bahwa penyangkalan diri menjadi kunci yang menentukan gagal atau berhasilnya seseorang menjadi murid-Nya.
Blessings

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s