Taat pada Tuhan Atau Tradisi Manusia

Bacaan hari ini: Markus 7:14-23
“Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.” (Markus 7:15)

Ada pepatah mengatakan, “jangan menilai buku dari ‘cover’-nya, melainkan isinya.” Pepatah ini ingin mengajarkan kita: umumnya orang sering menilai sesuatu itu baik dari apa yang nampak dari luarnya saja; padahal yang terpenting adalah isinya. Demikianlah kehidupan religiusitas bangsa Israel pada zaman Tuhan Yesus. Mereka nampak seperti orang yang saleh karena “kebiasaan-kebiasaan ibadah” yang mereka lakukan secara lahiriah, namun sesungguhnya hati mereka jauh dari Tuhan. Mereka memelihara tradisi tertentu, bahkan sampai pelaksanaan teknisnya, namun mereka mengabaikan esensi kebenaran firman Tuhan. Secara lahiriah mereka nampak baik, tetapi di hadapan Tuhan, mereka dinilai sebagai orang yang munafik.

Ketika mereka mengecam para murid Tuhan Yesus yang makan tanpa membasuh tangan, Tuhan Yesus menegor mereka, bahwa untuk urusan yang seperti itu (tradisi yang mereka buat), mereka rela memperjuangkan. Namun ketika berbicara mengasihi orang tua, mereka justru tidak memperjuangkannya dengan serius, sekalipun itu adalah perintah Tuhan. Mereka menuduh para murid sebagi orang najis, padahal hati merekalah yang najis. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa “segala sesuatu” yang dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati, tetapi ke dalam perutnya lalu dibuang di jamban (semua makanan halal); tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang (ay. 15, 18-23).

Bagaimana dengan kita? Mana yang lebih penting? Tampilan lahiriah atau kondisi hati kita? Kita taat pada perintah Tuhan atau menjunjung tinggi tradisi kita? Marilah kita taat pada perintah Tuhan dan memperhatikan sikap hati kita yang mau takut akan Dia, daripada memelihara tradisi manusia!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s