“Aku” Takkan Menyangkal Engkau

Bacaan hari ini: Markus 14:27-53
“… Sekalipun aku harus mati bersama-sama dengan engkau, aku takkan menyangkal engkau…” (Markus 14:31)

Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita melihat Petrus sedang membuat sebuah komitmen yang sangat baik. Namun kemudian dia ditegur Tuhan. Apakah ini berarti kita tidak perlu membuat komitmen, atau Tuhan sudah tahu siapa kita sebenarnya, jadi lebih baik kita berdiam diri saja?! Dari perikop ini kita melihat ada perbedaan antara sebuah komitmen yang murni untuk ikut Tuhan dengan pernyataan Petrus, yang lebih didasarkan pada egonya yang sombong.

Pertama, perkataan Tuhan Yesus tidak bermaksud meragukan iman para murid, melainkan menyampaikan sebuah peringatan dan konfirmasi tentang mereka maupun tentang kebangkitan-Nya (ay. 28). Namun Petrus langsung menyangkali pernyataan Tuhan tersebut, dengan alasan bahwa ia lebih setia dari semua orang lain. Di sinilah letak kejatuhannya sebelum penyangkalan tersebut. Ia merasa diri lebih hebat dari orang lain, bahkan ia beranggapan bahwa Tuhan pun telah salah menilai dirinya. Petrus tidak melihat tujuan sebenarnya dari apa yang Tuhan Yesus sampaikan, ia hanya mementingkan dirinya sendiri.

Kedua, pada waktu Tuhan Yesus memberikan tanda yang jelas tentang penyangkalan tersebut, yaitu sebelum ayam berkokok, Petrus akan menyangkal-Nya tiga kali. Ingat bahwa sebelumnya Tuhan Yesus menubuatkan tentang keledai yang akan Ia pakai untuk masuk Yerusalem dan juga ruangan kosong yang dipinjam untuk makan Paskah bersama murid-murid, tergenapi persis seperti yang dikatakan kepada murid-murid-Nya. Seharusnya pada detik ini, peringatan Tuhan yang demikian jelas dan tegas itu, harus diterima dengan rendah hati. Namun sekali lagi, Petrus merasa egonya terserang, dia yakin dia bukan orang yang disinggung oleh Tuhan. Untuk menjaga harga dirinya, maka ia berani berbantah dengan Tuhan, dan secara halus menyatakan bahwa Tuhan yang salah tentang dirinya. Bagaimana dengan kita?

Jika kita ditegur-Nya, janganlah congkak, sebab “kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan” (Ams. 16:18).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s