Perubahan Hidup yang Nyata

Bacaan hari ini: Lukas 5:27-32

“Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dangan Dia.” (Lukas 5:29)

Lewi atau Matius adalah orang Yahudi yang bekerja sebagai pemungut cukai. Pada zaman itu, pemungut cukai dibenci dan dianggap hina oleh masyarakat; karena mereka bekerja sebagai penagih pajak untuk pemerintah Romawi (penjajah dan orang kafir), dan memeras rakyat dengan cara menaikkan pajak dan mengkorupsi kelebihannya. Meskipun secara materi hidupnya tidak kekurangan, namun seorang pemungut cukai mengalami banyak tekanan dari masyarakat yang membencinya.

Tuhan Yesus memandang Lewi, pemungut cukai, sama dengan orang berdosa lainnya yang juga membutuhkan pengampunan dan keselamatan. Karena itu, ketika Yesus melihat Lewi sedang bekerja, Yesus memanggil Lewi secara pribadi untuk mengikuti Dia. Kita tidak tahu apa yang telah dikatakan Yesus sebelumnya, namun Calvin berpendapat bahwa Yesus telah berbicara banyak (tentang keselamatan, pengampunan dosa) pada Lewi sebelum Ia mengajak Lewi untuk mengikuti-Nya. Bagaimana respons Lewi? Lewi langsung berdiri, meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus. Tentu ini tidak mudah. Lewi akan kehilangan pekerjaan, harta, dan teman-teman seprofesi. Namun, ketika Lewi boleh merasakan kasih dan anugerah Tuhan Yesus, ada perubahan yang nyata terjadi dalam diri Lewi.

Pertama, Lewi rela meninggalkan kenikmatan harta dan pekerjaannya yang tidak mungkin ia lakukan jika mengikut Yesus. Prinsipnya, Lewi mau mengutamakan Tuhan. Kedua, Lewi mengadakan perjamuan besar di rumahnya untuk Yesus dan banyak orang serta teman-teman seprofesinya (ay. 29). Ini mungkin merupakan pesta perpisahan dengan teman-temannya, tetapi jelas juga merupakan tanda syukur Lewi dan sekaligus usaha Lewi untuk memperkenalkan teman-temannya kepada Yesus. Lewi tidak takut untuk bersaksi, meskipun risiko dicemooh ada. Ketiga, Lewi akhirnya menjadi murid Yesus yang setia, menjadi rasul Tuhan yang memberitakan Injil, menulis Injil Matius dan bahkan mati sebagai martir, disiksa dan dibunuh dengan pedang di kota Nadabah, Ethiopia, tahun 60. Bagaimanakah dengan kita?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s