Mengutamakan Tuhan

Bacaan hari ini: Lukas 14:25-35
“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Lukas 14:26)

Perkataan Tuhan Yesus ini bisa disalah mengerti oleh banyak orang, termasuk orang Kristen. Apakah ayat ini bisa diartikan, bahwa ketika kita mengikut Tuhan Yesus, maka kita boleh membenci (dalam arti literal) keluarga kita sendiri, apalagi kalau keluarga kita itu berbeda iman dengan kita? Ada beberapa makna di balik perkataan Tuhan Yesus ini!

Pertama, “menempatkan Yesus yang terutama.” Ketika kita menjadi murid Tuhan Yesus, itu berarti kita harus siap untuk menjadikan Tuhan Yesus sebagai segalanya (yang utama) dalam kehidupan kita. Ini bukan berarti bahwa kita bisa seenaknya meninggalkan keluarga atau tidak lagi memikirkan pekerjaan dan diri kita. Tapi maksudnya adalah, Tuhan Yesus menjadi dasar dalam kehidupan kita di tengah-tengah keluarga dan diri kita sendiri. Kita tidak bisa lagi berbuat semau kita sendiri. Tetapi hidup seturut kehendak Tuhan dalam keluarga dan kehidupan kita pribadi. Bagaimana kita menghormati, mengasihi, atau bersikap terhadap keluarga kita, semua itu haruslah berdasarkan Firman Tuhan.

Kedua, “siap membayar harga.” Ketika kita menjadi murid Tuhan Yesus, itu berarti kita harus siap ditolak oleh keluarga ataupun orang di sekitar kita yang belum percaya. Untuk itu, kita tetap harus memilih Tuhan Yesus dengan segala konsekuensinya. Dalam kondisi seperti ini, ini tidak berarti bahwa kita boleh membenci mereka, sebaliknya tetap memohonkan kasih karunia dari Tuhan bagi diri mereka; supaya merekapun bisa mengalami keselamatan dari Tuhan seperti yang sudah kita alami.

Ketiga, “kita adalah milik Tuhan.” Ketika kita menjadi murid (pengikut) Tuhan Yesus, itu berarti bahwa hidup kita bukan lagi milik kita sendiri, termasuk nyawa kita! Tetapi yang menjadi sukacita adalah nyawa kita ada di dalam Tuhan yang memberikan hidup kekal. Oleh karena itu, kita melihat dan membaca kisah-kisah para martir, orang-orang percaya yang rela mati demi imannya kepada Tuhan Yesus. Mereka tidak menyayangkan nyawa mereka sendiri demi mempertahankan imannya kepada Tuhan Yesus.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s