Raja yang Menolak Dijadikan Raja

Bacaan hari ini: Yohanes 6:1-15
“Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja …” (Yohanes 6:15)

Dalam lagu gubahan Handel yang berjudul “Halleluya,” Tuhan Yesus diagungkan sebagai Raja segala raja, Tuhan di atas segala yang dituhankan. Setiap kali hymne agung ini dinyanyikan, penonton akan spontan bangkit berdiri memberikan penghormatan tertinggi kepada Sang Raja. Kristus layak menerima penyembahan dan pengagungan tertinggi, karena Dia adalah Raja di atas segala raja.

Namun ketika hari itu orang banyak berniat menjadikan Dia sebagai Raja, Tuhan Yesus justru menolak dan sama sekali tidak tertarik dengan ide tersebut. Alasannya sederhana dan jelas, bahwa di balik keinginan mereka untuk menjadikan Dia raja, ada suatu jebakan terselubung. Mereka ingin menjadikan Dia sebagai raja sesuai yang mereka kehendaki, supaya Dia membuat kehidupan mereka menjadi nyaman, tanpa kekuatiran. Jika Dia bisa mengenyangkan ribuan orang dengan 5 roti dan 2 ikan, maka Dia pasti adalah orang yang diurapi Allah, dan diutus untuk kita.

Penindasan dari zaman Babel sampai zaman Romawi menyebabkan orang-orang Yahudi membangun pengharapan akan Mesias yang salah; Messias militer, seorang yang diutus Allah kepada mereka untuk membebaskan mereka dari penindasan dan memimpin mereka menuju suatu kehidupan yang baru. Bagi mereka, orang yang namanya Yesus dari Nazareth ini, telah menunjukkan kuasa yang besar, yang cocok dengan impian mereka. Sehingga mereka mau memaksa Dia menjadi raja. Tuhan Yesus menolak sama sekali keinginan mereka.

Dia memang Raja, dan itu akan digenapi pada waktu-Nya. Dia akan menjadi Raja dengan cara-Nya sendiri, sesuai tujuan-Nya datang ke dalam dunia ini. Lewat misi salib-Nya, Tuhan Yesus akan menghadirkan Kerajaan Allah ke dalam dunia. Di dalam Kerajaan itulah Dia akan menjadi Raja, dan bukan menjadi raja yang orang-orang inginkan pada hari itu. Tidak ada hal lain yang bisa menggoda Tuhan dan mengalihkan hidup-Nya untuk suatu tujuan yang berbeda. Bagaimanakah dengan Anda? Apakah yang menjadi panggilan dan misi hidup Anda? Apakah Anda masih hidup untuk itu?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s