Guru yang Rendah Hati

Bacaan hari ini: Yohanes 13:1-20
“Sebab Aku telah memberikan suatu teladan seperti kamu, supaya kamu juga berbuat yang sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yohanes 13:15)

Rendah hati artinya tidak mengganggap diri lebih hebat atau lebih sempurna daripada orang lainnya; atau artinya, sekalipun memiliki talenta dan karunia yang lebih, tidak mempertahankannya sebagai yang unggul daripada orang lain. Orang yang rendah hati tidak akan memandang remeh orang lain, melainkan memandang orang lain lebih penting daripada dirinya sendiri. Rendah hati adalah sikap yang tidak menganggap dirinya hebat, sekalipun kenyataannya memang hebat.

Dalam Filipi 2:6-8 menceritakan bahwa Yesus walaupun adalah Allah, tidak mempertahankan diri-Nya sebagai Allah, melainkan mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama seperti manusia, bahkan merendahkan diri-Nya mati di kayu salib.

Usai makan, Yesus Sang Guru memakai perlengkapan pelayan lalu membasuh kaki murid-murid-Nya (ay. 4-5)! Biasanya hal ini dilakukan oleh seorang pelayan. Suatu sikap yang simbolik dimana Ia sedang melepaskan “keguruan-Nya” dan mengambil peran sebagai hamba bagi murid-murid-Nya sendiri; bahkan Yesus mengambil kain lenan untuk membasuh kaki dan mengikatkannya pada pinggang-Nya. Di dalam pembacaan Midrash Yahudi, tindakan Yesus yang melepaskan jubah dan mengikatkan kain di pinggang, menegaskan sikap merendahkan hati yang luar biasa. Waktu itu, para murid sendiri tengah sibuk memperdebatkan siapakah yang terbesar di antara mereka (bdk. Luk. 22:24). Dengan isi perdebatan semacam itu, mana mungkin ada yang mau merendahkan diri dengan membasuh kaki yang lain? Namun ketika dibasuh Yesus, murid-murid diam saja. Berbeda dengan Petrus, ia tidak bisa menerima jika Sang Guru membasuh kakinya, yang adalah murid-Nya. Namun usai mendengar penjelasan Yesus, Petrus malah meminta-Nya agar seluruh tubuhnya dibasuh (6-9).

Dunia, termasuk orang Kristen, seringkali dikuasai oleh semangat kompetisi, sehingga saling mengkritik dan ingin memperlihatkan siapa yang terbaik dan terbesar. Namun Tuhan rindu kita bisa mengikuti teladan-Nya, dan bukan mengikuti hawa nafsu kita, karena kita murid-Nya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s