Air Susu Dibalas Air Tuba

Bacaan hari ini: Kisah Para Rasul 7:22-43
“… Apakah kamu mempersembahkan kepada-Ku korban sembelihan dan persembahan selama empat puluh tahun di padang gurun itu, hai kaum Israel? Tidak pernah …” (Kisah Para Rasul 7:42b-43a)

Dalam pembelaan di depan imam besar, Stefanus mengingatkan mereka kembali akan sikap orang Israel terhadap Musa yang diutus Tuhan untuk membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Bagaimana mereka terus menyakiti hati Tuhan dengan menolak utusan yang Allah berikan untuk memimpin mereka. Bahkan dalam ayat 42 tersirat kepedihan hati Tuhan tentang bagaimana kebaikan dan kasih sayang Tuhan kepada mereka yang telah membebaskan mereka dari perbudakan kejam di Mesir, ternyata bukan saja tidak dibalas dengan persembahan syukur, mereka malah berpaling kepada ilah-ilah lain. Sampai akhirnya, Tuhan harus menyerahkan mereka dalam pembuangan di Babel.

Dari bagian ini kita bisa melihat bagaimana bebalnya hati orang Israel. Kebaikan dan kemurahan Allah atas diri mereka bukan saja tidak mereka hargai, bahkan mereka terus-menerus menyakiti hati Tuhan dengan meninggalkan Tuhan dan menyembah kepada dewa lain, bak pepatah, “Air susu dibalas dengan air tuba.” Lalu bagaimana dengan kita? Bukankah kita seringkali juga bersikap seperti orang Israel? Kita merasa tidak mungkin membalas kebaikan seseorang dengan kejahatan. Akan tetapi, sadarkah kita bahwa sebagai orang percaya yang telah begitu banyak menerima pertolongan Tuhan, anugerah Tuhan, kasih sayang Tuhan, bahkan berkat Tuhan, kita masih sering menyakiti hati-Nya dengan berbuat dosa?

Ketika kenyataan hidup tidak lagi sesuai dengan pengharapan kita, bukankah kita seringkali kecewa kepada Tuhan dan meragukan kasih-Nya? Bahkan kemudian kita mencari pertolongan kepada hal-hal lain, sekalipun kita tahu, itu akan menyakiti hati-Nya. Bukankah ini juga dapat disebut sikap yang tidak tahu berterima kasih? Marilah kita mengevaluasi sikap kita terhadap Allah. Ketika kita bisa menyadari betapa besar kasih Allah kepada kita, maka kita pasti tidak akan tergoda untuk menyakiti hati-Nya, atau bahkan meremehkan Tuhan dalam hidup kita. Sebagai anak-anak Tuhan, selayaknya kita menjauhi dosa, serta melayani Tuhan dan sesama kita dengan penuh kasih.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s