Anugerah Bagi yang Tidak Layak (2)

Bacaan hari ini: Kisah Para Rasul 9:1-21
“Tetapi firman Tuhan kepadanya: Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku …” (Kisah Para Rasul 9:15)

Setelah sida-sida Etiopia, orang berikutnya yang menerima Injil kasih karunia adalah Paulus. Berbeda dengan sida-sida, Paulus adalah seorang yang memusuhi Kristus dan gerejanya dengan fanatisme yang tinggi terhadap Yudaisme. Dia adalah seorang Farisi yang sangat paham dengan ajaran Perjanjian Lama, dan yang sangat ketat berusaha menjalankan tuntutan-tuntutan ajaran Yudaisme. Bagi Paulus, ajaran baru yang disebarkan oleh para pengikut Yesus orang Nazareth adalah penyesatan yang harus dilawan dengan segala upaya, tanpa menyadari bahwa dirinya sedang menentang Allah sendiri.

Terbawa oleh amarah massa terhadap Stefanus sehingga mereka merajam dia sampai mati, Paulus adalah saksi mata peristiwa tersebut. Terbawa di dalam arus massa yang sudah buta, menyebabkan Paulus terbakar oleh api kebencian untuk ikut mengancam dan membunuh para pengikut Kristus. Dia pergi kepada Imam Besar, meminta surat tugas resmi untuk memudahkan dia melakukan rencananya; mencari, menangkap dan membawa mereka ke Yerusalem untuk diadili seperti yang telah mereka lakukan atas diri Tuhan Yesus dan atas Stefanus. Dengan surat di tangan, Paulus pergi menuju Damsyik.

Dengan apa yang dia lakukan, adalah pantas jika Allah menghukum, menghajar dia dengan keras. Bahkan seandainya petir menyambarnya di siang hari, itu hanya akan menunjukkan betapa dahsyat kuasa Allah, beta-pa mengerikan murka Allah. Allah bisa membelah bumi untuk menumpas bani Korah, Allah juga berkuasa untuk mengirim petir untuk membinasakan musuhNya; Paulus. Tapi bukan itu yang terjadi. Alih-alih membinasakan Paulus si panganiaya Gereja, Tuhan justru menyatakan diri kepadanya.

Bila sida-sida adalah tidak layak oleh karena statusnya, maka Paulus adalah tidak layak karena kehidupan dan perbuatan jahatnya. Tapi kepada kedua orang inilah, Allah menyatakan anugerah pengampunan-Nya, untuk mengajarkan suatu kebenaran bahwa tidak ada seorangpun mendapatkan anugerah karena kelayakan dirinya. Semua adalah kerena anugerah.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s