Perselisihan Tajam

Bacaan hari ini: Kisah Para Rasul 15:22-41
“Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah …” (Kisah Para Rasul 15:39)

Saya mencoba membayangkan, bagaimana perselisihan yang sangat tajam dapat terjadi di antara para rasul (Paulus dan Barnabas)?

Perselisihan yang tajam (Yun. “paroxusmos”), artinya suatu ekspresi emosi yang mendadak dan tidak terkendali; sehingga mengakibatkan perpecahan dalam pelayanan. Bukankah ini suatu hal yang sangat mema-lukan?

Namun apa yang ingin penulis [Lukas] maksudkan dalam hal ini?

Bagian dari masalah ini adalah, Yohanes Markus telah meninggalkan mereka (Paulus dan Barnabas) dalam memberitakan injil. Tidak diketahui dengan pasti apa yang membuat Yohanes Markus meninggalkan mereka. Pada saat perjalanan pemberitaan Injilnya yang kedua, Paulus bersikeras untuk tidak membawa Yohanes Markus atau tidak memberi kesempatan kepadanya. Namun pada saat yang sama, Barnabas melihat Yohanes Markus membutuhkan satu kesempatan untuk menunjukkan bahwa kali ini ia mampu; bagaimanapun mereka adalah sepupu (Kol. 4:10). Ia mungkin mendapati bahwa Yohanes Markus telah lebih matang dan bertumbuh dalam kerohaniannya, sehingga ia harus memperoleh kesempatan kedua. Seperti pada saat Barnabas memperkenalkan Paulus kepada para rasul di Yerusalem, mereka semua curiga kepadanya. Barnabas menerima dan memberikan kesempatan kepada Paulus untuk menjadi pengkhotbah dan akhirnya ia menjadi pengajar yang terkenal di Antiokhia. Karena perbedaan pandangan tersebut, Barnabas dan Paulus memilih berpisah.

Bagaimanakah kita menyikapi hal ini? Hal ini hendaklah ditafsirkan sebagai suatu tanda dari firman Tuhan bagi kita, agar tidak membiarkan hal seperti ini terjadi, sebab pada pelayanannya pun, Paulus kembali mengakui peran Yohanes Markus dalam pemberitaan Injilnya (2Tim. 4:11).

Meskipun Allah bisa saja menciptakan kebaikan, kisah ini adalah suatu pelajaran sikap rendah hati yang perlu dipelajari oleh banyak pemimpin gereja, bahkan oleh setiap generasi, agar tidak menonjolkan keegoannya, melainkan mau menyelesaikan persoalan dengan baik dan memberikan kesempatan untuk sebuah pemulihan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s