Tetap Tenang di Tengah Badai

Bacaan hari ini: Kisah Para Rasul 27:1-26
“… Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorangpun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini.” (Kisah Para Rasul 27:22)
Apa yang saudara pikirkan ketika melihat orang botak menjual obat penumbuh rambut? Atau jika seorang yang gemuk menjual produk untuk melangsingkan badan? Atau seorang yang penampilannya lusuh, dekil, kemudian menjual jasa yang bisa membuat kita mendapatkan penghasilan yang menjadikan kita kaya? Untuk hal-hal di atas, kita pasti tidak akan mempercayainya. Apalagi tertarik untuk membeli produk atau memakai jasa yang ditawarkannya.

Demikian juga dengan kehidupan kita sebagai orang percaya. Sering kita berbicara panjang-lebar tentang kebaikan Tuhan, kehebatan Tuhan, keajaiban Tuhan. Kita berbicara tentang hidup kudus, hidup yang diberkati, hidup yang diubahkan; tetapi, kehidupan kita sendiri tidak menunjukkan bahwa kita telah mengalami perubahan di dalam Tuhan. Sehingga tidak heran, jika pada akhirnya tidak ada yang percaya bahwa ada kebaikan menjadi orang Kristen, bahwa Kristus sanggup mengubahkan hidup seseorang; apalagi yang tertarik untuk menjadi orang Kristen.

Berbeda sekali dengan Paulus, ia bersaksi bukan hanya dengan perkataan tetapi dengan tindakan dan perbuatan. Ketika Paulus menjadi tahanan dan dalam perjalanan menuju ke Italia, kapal yang membawanya kandas. Dalam kondisi letih, kelaparan, kesusahan, Paulus menunjukkan sikap sebagai seorang anak Tuhan yang baik. Paulus tidak mengeluh, marah-marah atau bahkan mencari kesempatan untuk melarikan diri; tetapi dengan keteguhan hati, ia memberikan nasihat dan menguatkan mereka, termasuk orang yang menangkapnya! Sungguh suatu teladan yang luar biasa. D.L. Moody pernah berkata, ketika seseorang mengalami kesulitan, goncangan maka apa yang ada di dalam dirinya, itulah yang akan keluar.

Paulus menunjukkan bahwa Kristuslah yang ada dalam dirinya, sehingga ketika kesulitan itu menekan, ia tetap menghasilkan kesaksian yang indah, sehingga dapat menguatkan dan menghibur mereka yang dalam kesulitan.

Bagaimana dengan kita? Adakah kita telah bersaksi melalui kehidupan kita, dalam kondisi apapun?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s