Iman dan Kebenaran

Bacaan hari ini: Roma 4:1-5
“Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” (Roma 4:3)

Roma 4 memberikan gambaran yang jelas mengenai iman dan kebenaran dari Abraham, Bapa leluhur kita secara jasmani. Dalam kejadian 15 dijelaskan bagaimana awal mula iman Abraham diperhitungkan sebagai suatu kebenaran. Pada waktu itu Abraham tidak memiliki anak. Abraham sangat menginginkan seorang anak untuk menjadi ahli waris di dalam keluarganya. Di dalam penglihatan itu, Tuhan berjanji kepadanya untuk memberikan keturunan. Abraham saat itu sudah berusia lanjut; secara manusia, tidak mungkin bagi Sara untuk melahirkan seorang anak. Namun oleh karena iman, Abraham percaya akan janji Tuhan kepadanya dan hal itu diperhitungkan sebagai kebenaran.

Di dalam penjelasannya, Paulus menggunakan analogi dari kisah Abraham untuk menjelaskan bahwa melalui iman [kepada Yesus Kristus yang mati dan bangkit] seseorang dapat dibenarkan di hadapan Allah. Ini bukanlah suatu upaya dan usaha untuk memiliki iman, sehingga dengan usaha yang demikian sulit itu, akhirnya memperoleh pembenaran. Paulus menegaskan kembali di dalam ayat 5, demikian: “Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.” Manusia yang sudah sedemikian berdosa di hadapan Allah, bahkan karena dosa tersebut manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, tidak mungkin dapat memiliki iman dan dibenarkan di hadapan Allah oleh karena telah melakukan segala perbuatan baik. Hanya dengan iman! Itu pun juga merupakan anugerah Allah [bnd. Ef. 2:8-9], maka manusia dapat dibenarkan di hadapan Allah.

Oleh sebab itu, sebagai orang percaya kita harus bersyukur, karena Allah telah menganugerahkan iman, sehingga kita bisa percaya dan dibenarkan di hadapan Allah.

Pertanyaan bagi kita adalah, apakah wujud syukur kita kepada Allah? Syukur yang kita nyatakan kepada Allah harus diwujudkan melalui kesetiaan kita di dalam beribadah dan melayani Dia. Tidak ada yang lebih penting dan lebih utama daripada kesetiaan kita beribadah dan melayani-Nya, Amin.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s