Spiritualitas vs Sekularitas

Bacaan hari ini: 1 Korintus 2:14

“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah…” (1 Korintus 2:14)

 

Istilah “sekuler” adalah kata sifat yang menunjuk pada suatu keadaan yang telah memisahkan kehidupan duniawi dari pengaruh agama. Sedangkan “spiritual” adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan hal rohani. Apa parameternya bahwa seseorang telah terjebak dalam sekularisme, atau spiritualitas? Parameter spiritualitas seseorang dilihat dari kedekatan atau keintiman dengan TUHAN. Dalam 1 hari, apakah kita sadar, bahwa kita berjalan dengan Tuhan Yesus? Sedangkan parameter sekularisme, dilihat dari kesibukan yang terkait dengan hal-hal duniawi, sehingga mereka tidak bisa menerima Tuhan Yesus adalah Allah. Mereka berkata, bukankah ini adalah suatu kebodohan? Dikatakan, “Orang-orang Yahudi menghendaki “tanda,” dan orang-orang Yunani mencari hikmat dunia. Orang-orang masa kini begitu kuat dalam liberalisme, sehingga Tuhan dan ajaran keselamatan harus sesuai dengan ratio dan pengalaman pribadi. Maka pada zaman posmodern ini, kita mengalami krisis identitas, krisis kebenaran dan krisis otoritas (“jemaat adalah raja”).

Akibat dari krisis pada zaman ini, gereja mengalami kematian yang perlahan-lahan, sebab budaya konsumerisme membuat kita, anak-anak TUHAN tidak lagi menyukai pembinaan-pembinaan (pemuridan). Alasan mereka adalah: membuang waktu, tenaga, dan celakanya membosankan. Paulus berkata: “Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh” (1Kor. 2:1, 3-4).

Masihkah kita lebih memprioritaskan hal-hal yang sekuler lebih daripada hal-hal rohani? Jika kita menyadari anugerah-Nya yang besar bagi kita, marilah kita hidup lebih mencintai hal-hal rohani daripada hal-hal jasmani yang fana sifatnya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s